Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Deru riuh di tribun kolam renang Popda XVII/2025 Kalimantan Timur masih menyisakan gaung kebanggaan bagi Kota Balikpapan. Raihan 17 medali emas di cabang renang bukan semata capaian di atas podium, tetapi penanda bahwa strategi pemerintah kota dalam membangun ekosistem pembinaan atlet usia dini mulai membuahkan hasil.
Tonggak dominasi itu semakin bermakna ketika wajah regenerasi atlet Balikpapan tampil bersinar di lintasan air. Pada usia 11 tahun, Aisyah Putri Sibylla hadir sebagai simbol masa depan olahraga renang Kota Minyak, muda, percaya diri, dan matang secara teknik serta mental. Siswi kelas 5A SD Nasional KPS itu mampu menyapu bersih enam nomor berbeda, mulai dari 200 meter gaya bebas, gaya punggung, gaya kupu-kupu, 400 meter gaya bebas, hingga estafet putri.
Penampilannya yang tenang, fokus, dan tanpa beban di tengah persaingan yang kental oleh dominasi atlet-atlet senior menimbulkan kesan bahwa Balikpapan sedang memasuki era baru. Era di mana kolam renang menjadi laboratorium lahirnya generasi juara, dan pembinaan tidak lagi bergantung pada bakat instan, melainkan sistem yang terstruktur.
Pemerintah Kota Balikpapan, melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), menilai prestasi ini sebagai refleksi dari investasi jangka panjang di sektor olahraga. Pembinaan yang digulirkan di klub-klub renang lokal, kegiatan kompetisi berjenjang, serta dukungan fasilitas kolam renang berstandar pembinaan di berbagai titik kota, diproyeksikan untuk menumbuhkan atlet sejak usia sekolah dasar.
Kepala Bidang Olahraga Disporapar Balikpapan, M. Norhan, menegaskan bahwa munculnya Aisyah bukan kebetulan, melainkan hasil dari arah kebijakan yang konsisten.
“Usia 11 tahun dan sudah tampil setenang itu, ini aset jangka panjang bagi Balikpapan. Pembinaan renang berjalan bagus. Kami berharap bakat seperti Aisyah terus didorong hingga menembus level nasional,” ungkapnya pada Jumat (28/11/2025).
Menurut Norhan, keberhasilan ini menjadi momentum penting bagi strategi regenerasi atlet Balikpapan. Pemerintah kota berniat memperkuat pola pembinaan berbasis usia dini dengan memperluas sinergi antara sekolah, klub olahraga, dan orang tua atlet. Skema dukungan ke depan mencakup penguatan kurikulum ekstrakurikuler olahraga, peningkatan intensitas try out, pembinaan pelatih, serta perluasan akses fasilitas latihan bagi atlet belia berbakat.
Bagi Pemkot Balikpapan, dominasi 17 emas di Popda bukan hanya menjaga marwah prestasi daerah, tetapi memastikan ada keberlanjutan estafet kejayaan di kancah nasional. Aisyah menjadi alarm kebangkitan bagi atlet muda lainnya, bahwa bermimpi menembus level besar bisa dimulai dari kolam kota sendiri.
Di mata pemerintah, olahraga bukan hanya gelanggang kompetisi, tetapi ruang membangun karakter, harapan, dan identitas kota. Dan pada Popda XVII/2025, Balikpapan sekali lagi membuktikan bahwa Kota Minyak bukan hanya kaya pada sejarah juara, tetapi juga serius menyiapkan masa depan olahraga yang lebih panjang dan lebih gemilang. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)






