Aqila Nafasatul Huda, Gadis 15 Tahun yang Boyong Enam Emas Panahan di POPDA XVII Kaltim 2025

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Di arena panahan depan Masjid Polres Penajam Paser Utara, udara siang itu terasa aneh. Bukan karena panas atau angin, melainkan karena ratusan orang, tanpa dikomando, menahan napas bersamaan. Di titik itu, seorang remaja 15 tahun berdiri memaku fokus, sementara ujung anak panahnya mengarah ke lingkaran target yang tampak kecil dari kejauhan.

Ketika tali busur dilepas, keheningan pecah, lalu sorak memantul secepat panah melesat. Begitulah adegan yang berkali-kali terjadi di Popda XVII/2025, dan selalu berakhir sama: nama Aqila Nafasatul Huda kembali disebut sebagai pemenang. Enam emas dan tiga perak adalah ringkasan paling ringkas dari apa yang sejatinya bukan sekadar prestasi, melainkan pertunjukan mental.

Panahan Sebagai Ekspresi, Bukan Pilihan

Jika kebanyakan atlet tumbuh karena ambisi podium, Aqila tumbuh karena rasa penasaran. Ia pertama kali menyentuh busur saat masih kelas 3 SD, usia ketika olahraga lebih sering dianggap permainan ketimbang strategi. Gerbangnya bukan akademi besar atau kamp pelatihan elit, tetapi lingkungan paling sederhana: sekolah dan teman-teman yang sedang keranjingan panahan.

“Saya belum tahu kalau ini akan jadi jalan masa depan. Dulu hanya merasa nyaman karena gerakannya seperti puzzle, harus disusun langkah demi langkah,” ujarnya pada Sabtu (29/11/2025).

Alih-alih merasa sedang berlatih, Aqila menganggap panahan sebagai cara bercerita tanpa suara. Momen ketika menempatkan kaki, menautkan jemari, menarik tali, hingga membidik, bagi Aqila, semuanya adalah kalimat yang tersusun dalam hening.

Kekecewaan yang Tidak Diraung, Tapi Diperhitungkan

Popda di Kabupaten Paser pada tahun lalu meninggalkan titik getir yang jarang ia ceritakan. Aqila pulang tanpa emas, hanya membawa dua perak dan satu perunggu. Tidak ada air mata di panggung, namun puluhan sesi latihan berikutnya menjadi kesaksian bahwa ia menelan kecewa dengan cara khas pemanah: diam, fokus, dan menghitung ulang.

“Panah yang meleset itu bukan gagal. Itu data,” tuturnya pelan, namun tajam.

Pernyataan itu sederhana, tapi menjelaskan banyak. Aqila bukan remaja yang dikuasai emosi, melainkan atlet yang berpikir dengan ketelitian.

Dengan status Popda 2025 sebagai ajang terakhirnya, ia tidak berbicara soal “ingin menang”, tetapi wajib menang. Ia menargetkan diri seperti menargetkan sasaran, tanpa keraguan, tanpa jeda.

Aqila bukan atlet yang lahir dari fasilitas mewah. Rutinitasnya justru dekat dengan kehidupan remaja kebanyakan: sekolah di pagi hari, latihan singkat sepulang kelas, kewajiban panjang saat akhir pekan, dan malam menyelesaikan tugas pelajaran.

Disiplin itu bukan paksaan, melainkan pola hidup. Ia menyebutnya ritme, bukan pengorbanan.

Di luar arena, ada dua orang yang menjadi “alat stabilisasi”-nya setiap hari: ayah dan ibu yang selalu duduk di bangku sisi lapangan, terkadang membawa bekal, terkadang hanya membawa kehadiran. Mereka bukan pelatih teknik, namun pelatih terbesarnya dalam ketahanan.

“Kalau saya mulai ragu, cukup lihat mereka. Itu penyeimbang,” katanya.

Medali Nasional yang Tidak Membuatnya Silau

Jauh sebelum Popda PPU, Aqila telah membuktikan kapasitasnya di dua dunia sekaligus: panggung junior dan senior. Pada Kejurnas Junior di Kudus, ia meraih emas. Di Kejurnas Senior Bali, ia menggenggam perak, dua level dengan tekanan berbeda yang ia taklukkan tanpa lonjakan ego.

Baginya, kejuaraan bukan soal kelas usia. “Saya tidak membidik lawan. Saya membidik target. Siapa pun yang ada di sebelah saya, itu hanya kebisingan kedua,” ujar Aqila, menolak glorifikasi usia yang sering disematkan publik padanya.

Rencana Besar yang Ditulis dengan Huruf Kecil

Bila ditanya impian jangka panjang, Aqila tidak menjawab dengan kalimat menggelegar. Nada suaranya tetap sama seperti saat before-shot routine: stabil.

Ia sedang menyiapkan target baru: Porprov 2026 di Paser, dengan misi minimal dua emas. Lebih jauh dari itu, ia memasang bidikan ke tahun 2028, nama panggung nasional paling besar yang ingin ia sentuh: PON 2028, lalu membuka pintu berikutnya: seragam Merah Putih di level internasional.

“Kalau kelak saya mewakili Indonesia, saya ingin orang ingat bahwa saya bukan hanya juara, tapi pemanah yang tidak hilang jati dirinya,” katanya.

Lebih dari Atlet, Ia adalah Penjaga Fokus

Bagi Balikpapan, enam emas Aqila adalah penopang klasemen dan penguat optimisme. Namun bagi mereka yang menyaksikan langsung, kemenangan itu lebih mengesankan pada hal yang jarang diukur statistik: kemampuan mengelola kejutan, tekanan, dan keramaian tanpa kehilangan tembakan.

Di ujung setiap panah yang melesat, Aqila mengajarkan paradoks paling indah dalam olahraga ini: bahwa kekuatan terbesar kadang tidak tampak dalam gerak, tetapi dalam menahan diri sedetik lebih lama untuk tidak goyah.

Arena mungkin menggemuruh, tapi bagi Aqila, dunia tetap selembut desir angin yang lewat di tepi panah. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *