Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan penyediaan air baku bagi masyarakat. Salah satu program strategis yang tengah dijalankan adalah desalinasi air laut. Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan, Murni, menyampaikan bahwa kajian dan perencanaan untuk pelaksanaan desalinasi air laut telah dilakukan secara detail, termasuk penentuan titik lokasi dan pembiayaan yang efektif serta efisien.
“Semua sudah dihitung, mulai dari daerah mana yang dilayani, proses pengambilan air hingga distribusinya. Bahkan harga jual air hasil desalinasi ke masyarakat diperkirakan bisa sama dengan harga pasar, bahkan di bawah Rp10 ribu per kubik. Kami sangat optimis dengan proyek ini,” ujar Murni dalam pertemuan dengan awak media di Kantor PTMB, Minggu (2/6/2024).
Pelaksanaan proyek desalinasi air laut akan dimulai di kawasan Kampung Baru Ujung, Balikpapan Barat, yang dinilai sebagai lokasi paling efektif dan dapat segera direalisasikan. Lokasi ini berdekatan dengan pembangunan Rumah Sakit Sayang Ibu di Balikpapan Barat, sehingga memudahkan akses dan distribusi air.
“Proyek fisik desalinasi ini membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan. Kami memiliki lahan sendiri di IPAM Kampung Baru Ujung, sehingga prosesnya akan lebih mudah dan murah,” jelas Murni.
Anggaran yang dibutuhkan untuk proyek desalinasi di Kampung Baru Ujung atau Kelurahan Baru Ulu diperkirakan mencapai Rp50 miliar. Masa pembangunan diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun.
“Kami berharap ada kolaborasi antara BKAD dan PTMB untuk membahas kebutuhan ini agar bisa dieksekusi akhir tahun ini. Dengan demikian, pertengahan 2025 nanti, air dari desalinasi sudah bisa mengalir,” lanjutnya.
Mengenai opsi memanfaatkan air Sungai Mahakam sebagai sumber air baku, Murni menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan program jangka panjang dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun, karena prosesnya diperkirakan baru bisa dimulai pada 2026, desalinasi air laut dianggap sebagai solusi jangka pendek yang lebih cepat direalisasikan.
“Memprioritaskan Sungai Mahakam sebagai sumber air baku memang lebih terjamin, tapi berdasarkan perhitungan dan diskusi dengan BWS, proyek ini baru bisa dimulai fisiknya pada 2026 setelah DED selesai di 2025,” tutup Murni.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, membenarkan langkah strategis ini. Menurutnya, saat ini pihaknya bersama Bappeda Litbang sedang mengkaji dan menyusun rencana pelaksanaan desalinasi air laut dengan kapasitas 120 liter per detik.
“Dokumen perencanaan untuk desalinasi air laut saat ini sedang disusun,” ungkap Yudhi.
Dengan berbagai upaya ini, diharapkan PTMB dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Balikpapan secara optimal, mengatasi defisit air, dan memberikan layanan yang lebih baik. (*)







