Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN — Sanggar Seni Tari Parahyangan terus mempertegas eksistensinya sebagai salah satu kelompok seni yang konsisten menghadirkan perpaduan budaya Sunda dan Kalimantan dalam karya-karyanya. Bernaung di bawah Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, sanggar ini telah menjadi bagian penting dalam berbagai perhelatan besar, mulai dari acara pemerintah, event publik, hingga pagelaran kenegaraan. Bahkan, Parahyangan pernah tampil langsung di hadapan Presiden RI serta turut memeriahkan sejumlah agenda ground breaking di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pelatih Sanggar Tari Parahyangan, Fransisca Yunita, menjelaskan bahwa sanggar ini berdiri pada 2010 dan resmi memiliki legalitas pada 2013. Meski membawa nama budaya Sunda, Parahyangan turut menjadikan kebudayaan Kalimantan sebagai identitas artistik mereka.
“Parahyangan itu kan dari Sunda. Pembina kami dari Sunda, tapi karena kami berdomisili di Balikpapan, selain melestarikan budaya Sunda, kami juga wajib mempelajari budaya Balikpapan. Lalu kami kolaborasikan budaya Sunda dan Kalimantan menjadi beberapa karya,” jelasnya ditemui usai event Pesona Balikpapan 2025 di Pantai Manggar pada Sabtu (22/11/2025).
Salah satu karya yang kerap dibawakan adalah Teatrikal Bangen Tawai, sebuah tarian adat Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang ke sebuah desa, sekaligus menggambarkan sukacita dalam menyambut kehadiran orang baru.
Dengan studio yang berlokasi di kawasan Sepinggan, tak jauh dari Pantai Seraya, Parahyangan kini memiliki sekitar 40 anggota, baik junior maupun senior. Sanggar juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung, dengan rentang usia 14–27 tahun dan belum menikah.
Keterlibatan Parahyangan dalam berbagai agenda besar menjadi bukti kapasitas artistik yang mereka miliki. Kolaborasi budaya yang ditampilkan tidak hanya memperkaya khazanah seni tari Balikpapan, tetapi juga memperluas pemahaman publik tentang keberagaman budaya Nusantara.
Fransisca mengungkapkan harapan besar bagi perkembangan sanggar ini ke depan.
“Semoga kita semakin banyak menghasilkan karya, lebih diterima masyarakat sekitar dan luar daerah. Dan semoga kita bisa mensejahterakan anak-anak muda yang bersemangat memajukan budaya daerah,” ujarnya.
Dengan rekam jejak yang terus bertumbuh, Sanggar Tari Parahyangan digadang menjadi salah satu motor penggerak pelestarian budaya di kota ini, sekaligus membawa nama Balikpapan dalam percaturan seni tari nasional. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)







