Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Di antara rimbunnya pepohonan dan sejuknya udara perbukitan Jalan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, berdiri sebuah kawasan wisata yang kini menjadi buah bibir yakni Wisata Pringgondani. Kawasan ini bukan sekadar ruang rekreasi, melainkan simbol dari bagaimana semangat masyarakat mampu mengubah potensi lokal menjadi kebanggaan nasional.
Dulu, tempat ini hanyalah hamparan lahan biasa. Sebagian warga menanam, sebagian lagi menjadikannya ruang aktivitas komunitas kecil yang mencintai alam. Namun sejak 2023, arah Pringgondani berubah. Warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mulai menata kawasan ini, menyulap keasrian hutan menjadi destinasi edukasi dan rekreasi yang tetap berpihak pada lingkungan.
Kini, kerja keras itu berbuah manis. Pringgondani berhasil menembus 15 besar nasional dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2025, mengukuhkan namanya sebagai salah satu destinasi unggulan Kalimantan Timur.
“Awalnya Pringgondani hanya rintisan. Kami terus lakukan pembinaan hingga sekarang bisa masuk kategori desa wisata maju. Harapan kami, ke depan bisa mandiri dan menjadi contoh bagi wilayah lain di Balikpapan,” ujar Ratih Kusuma, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, Rabu (15/10/2025).
Ratih menilai keberhasilan ini tak lepas dari kekompakan masyarakat, dukungan pemerintah, dan semangat pelaku UMKM lokal yang tumbuh bersama wisata. “Kami memastikan pengelolaan berjalan berkelanjutan. Ada aspek kebersihan, pemberdayaan, hingga pengelolaan limbah. Kami ingin wisata alam yang benar-benar ramah lingkungan,” tambahnya.
Keberhasilan Pringgondani dinilai lengkap karena memenuhi lima indikator utama ADWI — mulai dari daya tarik wisata, digitalisasi, kelembagaan, fasilitas publik seperti toilet, hingga keberlanjutan lingkungan. Semuanya tumbuh serempak berkat kolaborasi warga dan pemerintah.
Kini setiap akhir pekan, kawasan Pringgondani ramai oleh wisatawan lokal yang ingin menikmati udara segar, belajar budaya, atau sekadar bersantai di tengah pepohonan bambu. Disporapar pun menggandeng PKK Kota dan sejumlah hotel untuk berkolaborasi dalam promosi produk dan kuliner khas.
“Sabtu-Minggu jadi waktu paling ramai. Kami ingin wisata ini juga jadi etalase produk lokal, dari kuliner, kriya, hingga jasa pariwisata,” terang Ratih.
Tak lama lagi, tim dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dijadwalkan melakukan survei lapangan pada November mendatang. Bagi warga Balikpapan, kedatangan itu bukan sekadar ajang lomba, melainkan pengakuan atas kerja kolektif yang telah mengubah wajah lingkungan mereka menjadi ikon wisata nasional. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)







