Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN — Di tengah maraknya tren busana pengantin modern, Balikpapan memiliki warisan kain dan rias pengantin yang sarat makna, yakni Tuntung Pandang. Busana adat pengantin khas Kota Minyak ini terus diperkenalkan secara luas oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan sebagai identitas budaya daerah.
Popularitas Tuntung Pandang kembali mencuri perhatian publik setelah dikenakan oleh pasangan Duta Wisata Kalimantan Timur, Arum dan Fadil, pada ajang Pemilihan Duta Wisata Indonesia 2025 di Novotel Balikpapan. Penampilan elegan keduanya sukses memperlihatkan keanggunan busana adat ini di panggung nasional.
Bernilai Filosofi Tinggi
Busana Tuntung Pandang pertama kali diinisiasi oleh almarhumah Imdaad Hamid, istri Wali Kota Balikpapan saat itu, bersama Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) “Melati”. Busana ini resmi diperkenalkan sebagai pakaian pengantin khas Balikpapan pada tahun 2008.
Secara etimologi, Tuntung Pandang berasal dari Bahasa Banjar. “Tuntung” berarti selesai, dan “Pandang” berarti melihat. Jika digabungkan, keduanya menyimbolkan doa dan harapan agar pasangan pengantin dapat langgeng dari awal bertemu hingga akhir hayat.
Tak hanya bermakna dalam, busana ini juga menampilkan keindahan estetika yang khas. Warna biru muda yang mendominasi melambangkan keindahan panorama pesisir Balikpapan, sementara taburan payet dengan motif Bunga Anggrek mencerminkan keasrian sekaligus kekayaan flora Kalimantan.
Busana ini mulai dikreasikan pada tahun 2005 oleh HARPI “Melati”, dan kemudian dinobatkan sebagai busana pengantin resmi Kota Balikpapan pada Seminar Pembakuan Pakaian Pengantin se-Kalimantan Timur tahun 2006.
Kembali Dipromosikan, Menjadi Kebanggaan Kota
Kepala Disporapar Kota Balikpapan, C.I Ratih Kusuma, menegaskan bahwa Tuntung Pandang saat ini menjadi salah satu fokus promosi budaya daerah.
“Itu sudah kita promosikan juga, itu adalah baju adat pengantin Balikpapan bernama Tuntung Pandang yang diciptakan oleh almarhumah Ibu Imdaad Hamid. Memang saat ini sedang kita promosikan,” ujarnya pada Minggu (16/11/2025).
Bahkan, busana khas ini kini ikut ditampilkan di panggung nasional melalui stand khusus Balikpapan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya kota.
“Di Taman Mini Indonesia di Jakarta itu kita punya stand khusus Balikpapan, di situ kami tampilkan baju adat Balikpapan yakni Takwo dan baju pengantinnya,” tambah Ratih.
Antusiasme masyarakat untuk mengenakan Tuntung Pandang juga kian meningkat. Busana ini mulai dipilih bukan hanya untuk acara resepsi, tetapi juga pemotretan prewedding.
“Kami harapkan kepada pengelola untuk menggunakan baju adat pengantin Balikpapan. Banyak sudah yang pakai, baik untuk prewedding maupun saat resepsi,” tutur Ratih.
Identitas Budaya yang Perlu Dilestarikan
Melalui berbagai ajang promosi, termasuk partisipasi sanggar seni, event budaya, dan keterlibatan generasi muda, Tuntung Pandang diharapkan menjadi ikon yang benar-benar melekat dengan identitas Balikpapan—baik di mata warga lokal maupun wisatawan.
Pelestarian busana adat tidak hanya berdampak pada kebanggaan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi perias pengantin, desainer lokal, hingga pelaku UMKM yang bergerak di bidang fashion tradisional.
Dengan pesonanya yang anggun, sarat makna, dan memiliki sejarah panjang, Tuntung Pandang kini kembali bersinar sebagai simbol cinta, keindahan, dan kekayaan budaya Kota Balikpapan. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)













