Tragedi Enam Anak Tewas Jadi Alarm Minimnya Infrastruktur Ramah Anak di Balikpapan

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Tragedi meninggalnya enam anak di sebuah kubangan bekas galian di Kilometer 8, Graha Indah, Balikpapan Utara, menjadi pengingat serius akan lemahnya ketersediaan fasilitas ramah anak di Kota Balikpapan. Insiden memilukan yang terjadi pada Senin (17/11/2025) itu mengundang sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Iim.

Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan betapa anak-anak membutuhkan ruang bermain yang aman dan layak, bukan lingkungan yang berpotensi membahayakan jiwa mereka.

“Saya miris sekali. Enam anak, ya Allah… saya sampai tidak bisa berkata-kata,” ujar Iim dengan nada sedih, Kamis (20/11/2025).

Ia menyampaikan bahwa anak-anak berada pada fase eksplorasi tinggi yang membuat mereka cenderung mencari tempat bermain apa pun yang menarik perhatian mereka, termasuk kubangan air yang sebenarnya berbahaya.

“Anak-anak usia itu sedang aktif mengeksplorasi. Mereka lihat air, mereka senang, tanpa memikirkan risiko. Air dan balon itu daya tarik bagi mereka,” jelasnya.

Iim menilai bahwa minimnya infrastruktur ramah anak menjadi salah satu faktor yang membuat anak-anak mencari tempat bermain di lokasi yang tidak aman.

Dia menegaskan perlunya penambahan ruang bermain publik yang layak di setiap kecamatan, mengingat jumlah penduduk Balikpapan yang terus bertambah.

“Dengan jumlah penduduk Balikpapan yang banyak, ruang bermain itu harus ditambah. Ini sudah kami bahas dalam FGD. Kita berharap perencanaan ini bisa masuk anggaran,” katanya.

Ia menyebut keberadaan ruang bermain aman bukan sekadar fasilitas hiburan, tetapi kebutuhan mendesak untuk menunjang tumbuh kembang anak serta mencegah mereka bermain di tempat berbahaya.

Menurut Iim, pembangunan fasilitas bermain oleh pemerintah harus mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan keamanan. Ruang bermain yang sudah ada perlu dijaga, dilengkapi sarana keselamatan, dan bisa digunakan tanpa hambatan biaya ataupun jarak.

“Fasilitas yang dibangun harus inklusif dan mudah diakses masyarakat. Tapi membangun saja tidak cukup, masyarakat juga harus aktif menjaga dan mengawasinya,” tegasnya. (ADV/DPRD Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *