Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah kerja Puskesmas Graha Indah pada tahun 2025 tercatat mengalami penurunan. Penanggung jawab program TBC Puskesmas Graha Indah, Adib Yabson Kalilo, Amd.Kep, menyampaikan bahwa pada 2025 ditemukan 55 kasus, turun dibandingkan 67 kasus pada 2024.
Menurutnya, kasus TBC paling banyak ditemukan pada kelompok usia 25 hingga 76 tahun. Penemuan kasus dilakukan melalui skrining terhadap pasien yang datang berobat ke puskesmas, terutama mereka yang memiliki gejala atau faktor risiko seperti batuk lebih dari dua minggu, perokok lama, pasien diabetes melitus (DM), serta riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
“Selain skrining di layanan puskesmas, kami juga melakukan skrining di luar gedung, seperti pada kegiatan pemeriksaan Penyakit Tidak Menular (PTM),” ujar Adib kepada wartawan, Rabu (19/11/2025).
Dia menyampaikan bahwa tingkat keberhasilan pengobatan TBC pada 2024 mencapai 73 persen. Sementara itu, capaian 2025 hingga Triwulan II masih berada pada angka 55 persen, karena sebagian pasien masih menjalani terapi dan belum memasuki fase akhir pengobatan.
Untuk memastikan kepatuhan minum obat, puskesmas melakukan pemeriksaan follow up pada bulan kedua, bulan kelima, dan akhir pengobatan. Adib juga menegaskan bahwa pasien diberikan edukasi sejak awal mengenai potensi efek samping obat agar dapat segera melapor jika merasakan keluhan.
“Jika ada efek samping berat, pasien kami arahkan untuk datang ke puskesmas 24 jam, terutama bila terjadi di luar jam pelayanan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Puskesmas Graha Indah saat ini belum memiliki alat Tes Cepat Molekuler (TCM) sehingga pemeriksaan dilakukan melalui kerja sama dengan puskesmas lain.
Adapun jumlah petugas pendamping TBC di Puskesmas Graha Indah terdiri dari dua orang, yakni satu dokter dan satu perawat. Mereka bertugas memantau kondisi pasien, memberi edukasi pentingnya minum obat teratur, serta menangani keluhan efek samping obat.
Tim kolaborasi penanggulangan TBC juga melibatkan petugas promosi kesehatan, petugas kesehatan lingkungan, petugas gizi, dan petugas laboratorium.
Meski obat TBC (OAT) selalu tersedia, Adib menyebut logistik penunjang lain masih bergantung pada ketersediaan dari Dinas Kesehatan. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)







