Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi siswi kelas 9 sebagai bagian dari Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) masih menemui kendala. Di SMP 20 Balikpapan Utara, hanya 18 dari 20 siswi yang bersedia menerima vaksin HPV dalam pelaksanaan pada Rabu (19/11/2025).
Dua siswi lainnya terpaksa ditunda karena orang tua belum memberikan persetujuan.
Bidan Puskesmas Karang Joang, Nursyafarini, mengatakan bahwa penolakan yang muncul umumnya dipengaruhi kekhawatiran orang tua terkait aspek agama, efek samping dari imunisasi sebelumnya, maupun kurangnya pemahaman tentang manfaat vaksin.
“Kami tidak bisa memaksa, karena imunisasi tetap membutuhkan persetujuan orang tua. Namun vaksin HPV ini penting untuk perlindungan jangka panjang anak, terutama dalam mencegah kanker leher rahim di masa depan,” jelasnya.
Menurutnya, HPV adalah virus yang umum menyerang perempuan dan dapat berkembang menjadi kanker serviks jika tidak dicegah sejak dini. Karena itu, pemberian vaksin di usia remaja menjadi langkah yang sangat efektif.
“Ini adalah investasi kesehatan jangka panjang, bukan hanya untuk sekarang,” tambahnya.
Selain vaksin HPV, program BIAS di jenjang SMP juga mencakup imunisasi DT/TD serta campak rubella.
“Difteri menyerang saluran pernapasan dan sangat mudah menular. Tetanus bisa muncul dari luka yang terkontaminasi tanah atau benda kotor.
Sementara campak rubella bisa berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan kecacatan pada bayi,” paparnya, menekankan pentingnya imunisasi dasar dan lanjutan bagi remaja.
Nursyafarini menjelaskan bahwa Puskesmas Karang Joang kini semakin intensif melakukan edukasi dan sosialisasi untuk mengurangi penolakan. Penyuluhan tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga melalui media sosial resmi puskesmas, pertemuan orang tua, hingga lewat kader posyandu yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Kami berusaha agar informasi yang diterima orang tua itu benar, lengkap, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Imunisasi adalah hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari penyakit berbahaya, dan kami berharap orang tua semakin paham akan hal itu,” pungkasnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)








