Disporapar Dorong Grand City Jadi Simpul Baru Olahraga & Ekraf, Pecah Keramaian dari Pusat Kota

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Grand City bukan lagi sekadar kawasan hunian dan komersial. Tempat ini telah berubah menjadi ruang publik favorit anak muda, keluarga, hingga pelari pagi. Setiap akhir pekan, ribuan warga memenuhi area jogging track dan akses jalan kawasan ini untuk lari sore, bersepeda, atau sekadar nongkrong di sentra UMKM.

Kepala Disporapar Kota Balikpapan, dr. C.I. Ratih Kusuma, menyebut tren ini sebagai sinyal kuat: warga Balikpapan butuh lebih banyak ruang aktivitas di luar pusat kota.

“Grand City itu sekarang makin ramai. Tiap pagi dan sore, banyak yang jogging, bersepeda, lalu mampir ke UMKM. Dulu kami juga pernah launching jalan pagi bareng dengan UMKM, dan responsnya luar biasa. Model kegiatan seperti itu perlu kami coba lagi,” ujar Ratih, Jumat (21/11/2025).

Ratih tidak berhenti pada wacana. Ia sudah buka lagi ruang diskusi dengan manajemen kawasan untuk menyiapkan skema aktivasi rutin, tak hanya olahraga, tapi juga agenda ekonomi kreatif.

Balikpapan Utara Bangun Identitas, Keramaian Tak Harus Menumpuk di Tengah Kota

Menurut Ratih, Grand City punya peran strategis memecah ketergantungan ruang publik yang selama ini menumpuk di Balikpapan Kota dan Balikpapan Selatan bagian tengah. Pertumbuhan wilayah utara yang cepat memberi peluang baru untuk membangun pusat aktivitas warga yang lebih merata.

“Kami sempat diskusi dengan manajemen Grand City, dan kami sepakat Balikpapan Utara bisa jadi spot baru. Warga tidak harus selalu ke tengah kota. Di sini pun bisa jogging, ngopi, makan, bahkan ikut event besar,” katanya.

Bagi Disporapar, pemerataan bukan hanya soal memindah kerumunan, tapi memindah peluang ekonomi. Saat ribuan orang lari, ribuan orang juga berinteraksi dengan pelaku UMKM lokal. Saat event jalan pagi sukses, omzet kuliner ikut melesat. Saat traffic pengunjung naik, wilayah utara ikut kebagian panggung.

Gerak Duluan, Arahkan Langsung: Keamanan dan Keselamatan Jadi Prioritas

Keramaian tanpa tata kelola, kata Ratih, bisa berubah jadi risiko. Karena itu, Disporapar ambil dua jalur bersamaan: bikin event dan arahkan perilaku warga di lapangan.

“Kalau jogging atau lari, ambil posisi berlawanan arah dengan kendaraan. Biar saling lihat dan saling siaga. Ini kebiasaan kecil yang bisa mencegah hal-hal tidak diinginkan,” pesannya.

Ratih menilai edukasi keselamatan harus hadir se-ngegas edukasi gaya hidup sehat. Petugas lapangan akan ia minta ikut bergerak saat event digelar kembali, rambu pengawasan diperjelas, dan alur sirine imbauan disiapkan lebih kuat.

Grand City dan Bekapai Jadi “Sumbu Ganda” Aktivasi Kota

Tiga bulan menjelang puncak libur akhir tahun 2025, Disporapar juga sudah susun peta event berbasis titik kawasan. Mereka siapkan Fun Run, Fun Walk, senam massal, dan pasar UMKM di beberapa ruang urban yang sudah punya basis keramaian organik, termasuk Grand City dan Taman Bekapai, dua sumbu berbeda yang saling melengkapi.

“Kami mau warga punya opsi. Tidak semua harus ke Bekapai. Ada Grand City, ada titik-titik baru yang sama amannya, sama nyamannya, sama ramainya. Ini juga bantu kami gerakkan ekonomi lokal secara lebih luas,” ujar Ratih.

Ruang Publik Modern Tak Cukup Cantik, Tapi Harus Punya Ritme

Ratih melihat Grand City punya komposisi ideal: jogging track yang nyaman, area keluarga, titik kuliner, dan komunitas UMKM yang tumbuh alami.

Disporapar ingin bikin ritme di sini: jadwal olahraga rekreasi, panggung seni pop-up, kolaborasi brand kecamatan, hingga pasar Ekraf tematik yang bukan hanya musiman, tapi rutin dan punya identitas kawasan.

“Yang paling penting, warga tetap nyaman dan aman. Silakan ramai, silakan seru, tapi tetap tertib. Itu yang kami jaga,” tutup Ratih. (yad/ADV/DPOP Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *