Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Puskesmas Kariangau terus memperkuat upayanya dalam menekan penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pelaksanaan survei vektor rutin dan pelaksanaan Gerakan Serentak (Gertak) di seluruh wilayah RT.
Langkah ini menjadi prioritas mengingat Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah tersebut masih berada di bawah standar dan belum mencapai target yang diharapkan.
Tenaga Sanitasi Lingkungan Puskesmas Kariangau, Tuwini, menjelaskan bahwa kegiatan survei vektor dilakukan secara berkala setiap tiga bulan. Pemeriksaan difokuskan pada tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk. Jika ditemukan jentik, petugas segera melakukan penaburan larvasida serta memberikan edukasi kepada penghuni rumah.
“Kami survei tiap tahun dengan jadwal tiga bulan sekali. Semua RT kami fokuskan, sebab angka bebas jentiknya masih rendah,” ujar Tuwini, Sabtu (22/11/2025).
Dalam survei terbaru, petugas menemukan jentik di beberapa titik di RT 03. Data triwulan ketiga mencatat ABJ di wilayah tersebut berada pada angka 87,68 persen, menandakan masih adanya risiko penularan DBD.
Selain itu, populasi nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi vektor utama penyakit, terpantau mengalami peningkatan, seiring kondisi cuaca yang cenderung hujan.
“Curah hujan yang tinggi membuat lingkungan lebih lembap dan banyak tempat yang terisi air. Ini memicu peningkatan populasi Aedes aegypti,” jelasnya.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan banyak warga masih mengandalkan tandon, drum, dan wadah besar lainnya sebagai sumber air cadangan. Sebab, dari seluruh RT di Kariangau, hanya tiga RT yang sudah teraliri jaringan PDAM.
Kondisi ini menyebabkan banyaknya tempat penampungan air yang berpotensi menjadi tempat bertelur nyamuk. Selain itu, penumpukan sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik turut memperbesar risiko, karena dapat menampung air hujan dan menciptakan habitat ideal bagi jentik.
“Ketika sampah plastik dibiarkan, terutama di musim hujan, itu bisa langsung menjadi tempat perindukan nyamuk. Ini yang harus kita waspadai,” tambah Tuwini.
Meski kader jumantik terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan rumah ke rumah, Tuwini menilai keberhasilan pengendalian vektor sangat bergantung pada perilaku dan kesadaran masyarakat.
Minimnya kebiasaan warga dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri masih menjadi hambatan utama.
“Kami berharap masyarakat bisa melakukan PSN mingguan secara mandiri. Kalau kesadaran tinggi, keberadaan jentik bisa ditekan bahkan hilang,” tegasnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)







