Lintaskaltim.com, BERAU – Komisi II DPRD Berau mendorong pemerintah daerah untuk melakukan optimalisasi terhadap pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar keberadaannya benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Langkah ini dinilai mendesak agar anggaran pembangunan yang telah dikucurkan tidak terbuang sia-sia menjadi fasilitas yang terbengkalai.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, memberikan catatan sejumlah RTH di Bumi Batiwakkal sebenarnya telah dibekali dengan infrastruktur pendukung yang cukup memadai.
Namun, ia menyayangkan pola pengelolaannya yang dinilai belum maksimal, sehingga di banyak titik fasilitas tersebut tampak kurang terawat dan sangat minim aktivitas publik.
“Persoalannya bukan pada kurangnya pembangunan fisik, tetapi belum adanya strategi pengelolaan yang jelas. Sayang jika sudah dibangun, tapi tidak dimanfaatkan masyarakat,” tegas Sakirman, Jumat (6/3/2026).
Menurut Sakirman, fungsi RTH seharusnya tidak hanya terbatas sebagai paru-paru kota atau sekadar elemen estetika pemanis sudut kota semata.
Ia menekankan, RTH memiliki potensi besar untuk menjadi ruang publik yang hidup, inklusif, dan menjadi pusat interaksi sosial yang produktif.
“Taman kota dan ruang terbuka bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti olahraga, seni budaya, hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” paparnya.
Guna menghidupkan suasana di area tersebut, Sakirman mendorong pemerintah daerah agar lebih berani melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam pengelolaan RTH.
Ia mengusulkan kolaborasi dengan pelaku UMKM, komunitas olahraga, penggiat seni, hingga kelompok edukasi agar ruang terbuka dapat diisi dengan kegiatan rutin yang bermanfaat bagi warga.
Agenda seperti senam bersama, pentas seni berkala, bazar UMKM lokal, hingga kelas literasi terbuka diyakini akan membuat RTH selalu ramai dikunjungi.
Dengan adanya keterlibatan komunitas, rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas umum tersebut juga akan semakin tinggi.
“Iya dong. Kalau masyarakat dilibatkan, RTH tidak hanya menjadi pemanis kota, tetapi benar-benar hidup dan bermanfaat,” jelasnya.
Meski mendorong aktivasi kegiatan, Sakirman tetap memberikan catatan penting mengenai aspek pemeliharaan.
Ia menekankan, pengawasan fasilitas secara berkala tidak boleh diabaikan agar faktor keamanan, kebersihan, serta kelayakan sarana tetap terjaga bagi kenyamanan pengunjung.
“Saya berharap, pembangunan RTH ke depan tidak hanya berhenti pada proyek fisik, tetapi disertai konsep pengelolaan berkelanjutan,” tutup Sakirman. (ADV/DPRD BERAU)






