Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino yang berpotensi memicu cuaca ekstrem serta berdampak pada ketersediaan bahan pangan.
Menurutnya, kondisi global, termasuk faktor geopolitik dan perubahan iklim, dapat memengaruhi stabilitas pasokan pangan, khususnya beras sebagai komoditas utama masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui diversifikasi pangan dengan menyiapkan bahan alternatif yang mudah diakses dan sesuai dengan potensi daerah.
“Melalui internal partai, kami sudah membahas pentingnya menyiapkan bahan pokok pendamping atau pengganti beras, seperti umbi-umbian dan jagung,” ujar Budiono, Selasa (14/4/2026).
Ia menilai, penguatan pangan lokal menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah ancaman krisis akibat perubahan iklim. Selain lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan, komoditas lokal juga dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Budiono mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif mengembangkan sektor pertanian berbasis potensi lokal, meskipun diakui Kota Balikpapan memiliki keterbatasan lahan untuk persawahan. Namun demikian, peluang pengembangan tanaman non-padi dinilai masih terbuka lebar.
“Kalau untuk sawah memang berat, tapi tanaman seperti jagung atau komoditas lain masih memungkinkan dikembangkan. Pemerintah harus hadir dengan program dan penganggaran yang jelas,” katanya.
Selain jagung dan umbi-umbian, ia juga menyoroti potensi komoditas porang yang saat ini mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah. Porang dapat diolah menjadi tepung yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras dengan kandungan gizi yang cukup tinggi.
Menurutnya, pengembangan komoditas alternatif tersebut perlu didukung melalui kebijakan konkret, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan petani, hingga jaminan pasar. Dengan demikian, program diversifikasi pangan tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Namun demikian, Budiono mengakui keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu tantangan utama. Ia menyebut sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terserap untuk program wajib seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.
“Di sinilah pentingnya menentukan prioritas program pilihan yang bisa memperkuat ketahanan pangan daerah,” jelasnya.
Selain itu, Budiono mengingatkan bahwa dampak El Nino tidak hanya berpengaruh pada sektor pangan, tetapi juga berpotensi memicu krisis air bersih dan meningkatkan risiko bencana seperti kekeringan. Oleh karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan secara terpadu lintas sektor.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja. Ketahanan pangan, ketersediaan air, hingga kesiapan infrastruktur harus berjalan seiring dalam menghadapi dampak El Nino,” tutupnya. (ADV/DPRD Balikpapan)











