Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Sekolah swasta YPSI Hos Cokroaminoto yang berlokasi di Jalan Cempaka Putih RT 16, Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, menghadapi tantangan serius tahun ini. Tidak ada satu pun siswa baru yang mendaftar untuk tahun ajaran 2025/2026.
Bendahara YPSI Hos Cokroaminoto, Ellytawaty Z, S.Pd, menjelaskan bahwa lokasi sekolah yang berada di antara empat sekolah negeri menjadi salah satu penyebab minimnya pendaftar. “Kami ini terjepit di antara sekolah negeri. Orang tua lebih memilih sekolah negeri yang biaya gratisan. Sementara kami sekolah swasta, ada biaya masuk dan uang pembangunan. Tapi sebenarnya tidak mahal, hanya Rp1 juta untuk uang gedung dan seragam olahraga. Selebihnya dibantu pemerintah,” ujarnya kepada wartawan, Senin (28/7/2025)
Sekolah juga menetapkan SPP sebesar Rp200.000 per bulan, namun sudah disubsidi pemerintah sebesar Rp75.000. “Jadi yang dibayar hanya Rp125.000. Tapi mungkin itu pun masih dianggap berat bagi sebagian masyarakat,” tambahnya.
Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya membantu siswa yang kurang mampu, termasuk anak yatim. Beberapa siswa dibantu melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan pencarian orang tua asuh. Bahkan, salah satu pengurus sekolah, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Abdulloh menanggung langsung biaya pendidikan tiga anak yatim di sekolah tersebut.
“Kalau ada yang benar-benar tidak mampu, kami bantu carikan orang tua asuh. Anak yatim juga kami gratiskan. Untuk saat ini jumlah murid disekolah tersebut kurang lebih 30 murid,” ungkap Ellytawaty.
Kondisi keuangan sekolah juga berdampak langsung pada guru. Gaji para guru selama ini bersumber dari pembayaran SPP, ditambah dana BOSDA dan subsidi lainnya. Namun, karena tidak ada siswa baru, sekolah terpaksa merampingkan jumlah guru dari 10 orang menjadi hanya 6 orang.
“Kami terpaksa mengencangkan ikat pinggang. Sekarang hanya ada enam guru yang tetap bertahan. Mereka digaji dari dana subsidi, sumbangan pribadi seperti dari Abdulloh, Fauzi Adi Firmansyah dan Taufik Qul Rahman,” terangnya.
Meski tahun ajaran baru belum menghasilkan siswa kelas 1, pihak sekolah tetap berusaha mempertahankan operasional. Saat ini, hanya ada tiga siswa yang mendaftar, satu untuk kelas 2 dan dua untuk kelas 3.
Sekolah juga sempat diminta menerima siswa berkebutuhan khusus. Namun, dengan keterbatasan sumber daya dan guru, permintaan tersebut belum bisa dipenuhi.
“Memang ada yang minta agar kami menyediakan guru khusus untuk inklusi. Tapi dengan kondisi kami saat ini, itu sulit. Mayoritas siswa kami juga berasal dari keluarga kurang mampu. Kami khawatir jika memberikan perlakuan khusus, bisa menimbulkan kecemburuan sosial,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Balikpapan)






