Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, yang menjadi satu-satunya lokasi pembuangan sampah di Kota Balikpapan, diperkirakan hanya mampu menampung timbunan sampah warga hingga tahun 2028. Kondisi ini membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan harus memutar otak agar persoalan sampah tidak berubah menjadi krisis lingkungan di masa depan.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemkot menyiapkan strategi ganda. Yakni, memperluas jaringan bank sampah hingga ke tingkat kelurahan, serta membangun sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di berbagai wilayah kota.
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga, sehingga kebiasaan memilah dan mengelola sampah tidak hanya berhenti di TPA.
“Target kami adalah membangun 210 bank sampah di seluruh wilayah kota. Setiap kelurahan minimal memiliki enam bank sampah, sedangkan di tingkat kecamatan akan dibentuk bank sampah induk,” jelas Sudirman, Jumat (29/8/2025).
Saat ini, tercatat sudah ada 106 bank sampah yang beroperasi aktif di berbagai wilayah Balikpapan. Bank sampah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sampah anorganik bernilai jual, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat tentang ekonomi sirkular.
Lebih lanjut, Sudirman menjelaskan bahwa warga bisa menukar sampah plastik, kertas, dan barang bekas lainnya menjadi tabungan, baik dalam bentuk uang tunai maupun saldo digital.
Selain menggenjot bank sampah, Pemkot juga menyiapkan pembangunan TPST sebagai sarana pengolahan lanjutan. Tahun ini, satu TPST di kawasan Kota Hijau Daksa segera beroperasi. Sementara tiga TPST lainnya akan menyusul dibangun di Graha Indah, Telaga Sari, dan Kilometer 12 pada tahun 2026.
“Dengan keberadaan TPST, diharapkan sebagian besar sampah bisa dipilah, didaur ulang, atau dimanfaatkan kembali sebelum masuk ke TPA Manggar. Dengan demikian, usia pakai TPA bisa diperpanjang sekaligus mengurangi beban timbunan sampah yang terus meningkat setiap tahun,” harapnya.
Sudirman menambahkan, program ini bukan hanya soal menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya Balikpapan untuk meraih penghargaan Adipura Kencana, predikat tertinggi dalam bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan.
“Untuk bisa mendapatkan Adipura Kencana, tingkat pengurangan sampah harus mencapai minimal 50 persen. Saat ini capaian kita baru sekitar 30 persen. Masih ada kekurangan sekitar 20 persen yang harus dipenuhi, dan bank sampah menjadi salah satu solusi terbaik,” tegasnya.
DLH juga aktif mengkampanyekan gerakan reduce, reuse, recycle (3R) kepada masyarakat. Edukasi dilakukan melalui sekolah, kelompok masyarakat, hingga program kemitraan dengan sektor swasta.
Beberapa perusahaan di Balikpapan bahkan sudah mulai bekerja sama dalam mendukung pengelolaan sampah, baik melalui CSR maupun inovasi teknologi ramah lingkungan.
Jika target bank sampah dan TPST berjalan sesuai rencana, Sudirman optimistis Balikpapan tidak hanya mampu menekan potensi krisis sampah, tetapi juga bisa menjadi contoh kota berkelanjutan yang mengedepankan partisipasi masyarakat.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah adalah kunci keberhasilan. Kalau semua bergerak bersama, kita bisa menunda penuh TPA Manggar sekaligus menjaga lingkungan tetap lestari,” tutupnya. (ADV/Diskominfo Balikpapan)













