Lintaskaltim.com, BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan komitmennya untuk terus mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan hidup.
Komitmen ini diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) terkait pengelolaan sumber daya alam untuk periode 2025–2030 di Hotel Mercure, Senin (13/10/2025).
“Kami menyadari, sumber daya alam Kabupaten Berau sungguh luar biasa. Dari hulu ke hilir, dari pegunungan hingga pesisir, semuanya adalah anugerah besar yang harus kita jaga dan dimanfaatkan secara bijaksana dalam rangka memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” kata Bupati Berau, Sri Juniarsih.
Menurut Sri Juniarsih, terjalinnya kerja sama dengan YKAN, yang telah menjadi mitra Pemkab Berau sejak 2002 atau selama 23 tahun, menjadi langkah konkret dan strategis.
Kolaborasi ini merupakan kelanjutan penguatan tata kelola kawasan hutan, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Sri Juniarsih juga menekankan, kerja sama ini adalah wujud nyata pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat daerah.
“Kami juga harus mengingat, kemajuan ekonomi jangan sampai mengorbankan kelestarian lingkungan. Sebaliknya, konservasi lingkungan harus mampu menumbuhkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menyebut pihaknya mendukung pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan fundamental ekosistem darat dan laut.
“Upaya konservasi yang kami dorong harus mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sinergi antara Pemkab Berau dan YKAN telah membuahkan hasil terukur dalam lima tahun terakhir.
Dukungan pemerintah daerah telah menjangkau 77 kampung dan dua kelurahan dengan total dana sekitar Rp30,8 miliar untuk kegiatan berbasis lingkungan, di mana setiap kampung menerima rata-rata Rp390 juta.
Selain itu, 15 kelompok masyarakat penerima manfaat memperoleh bantuan masing-masing Rp50-70 juta untuk kegiatan berbasis lingkungan dan penurunan emisi.
Kolaborasi ini juga membuahkan hasil di sektor perhutanan sosial, di mana 31 kelompok masyarakat mendapatkan hak kelola dengan total luasan mencapai 1.600 hektare.
YKAN juga aktif menggerakkan ekonomi hijau berbasis komunitas melalui program Akademi Kampung Sigap dan pengembangan UMKM ramah lingkungan.
Sehingga, produk unggulan seperti coklat batangan, batik mangrove, terasi, udang kering, dan kerajinan rotan berhasil dipasarkan melalui platform digital.
Di bidang kelautan, kerja sama ini melahirkan langkah-langkah strategis, termasuk pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di pesisir dan Kepulauan Derawan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi laut.
Selain itu, dilakukannya program restorasi hidrologi mangrove dan akuakultur berkelanjutan sebagai upaya pemulihan ekosistem pesisir. (*/Adv)







