Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Kekhawatiran terhadap dampak negatif penggunaan gadget di kalangan pelajar terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Iim, Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyatakan dukungannya terhadap rencana kebijakan pemerintah pusat yang akan melarang penggunaan gadget dan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Iim menegaskan bahwa pembatasan penggunaan gadget, terutama bagi siswa Sekolah Dasar (SD), sangat penting demi melindungi mereka dari paparan konten yang tidak sesuai.
Ia menyebut bahwa tanpa pengawasan yang ketat, anak-anak berisiko terpapar informasi berbahaya, seperti kekerasan dan pornografi.
“Hingga saat ini, belum ada perlindungan khusus yang benar-benar membatasi akses anak-anak terhadap informasi yang berbahaya di internet. Karena itu, pembatasan penggunaan gadget menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan secara serius,” kata Iim kepada wartawan, Senin (3/3/2025).
Lebih lanjut, Iim menekankan bahwa peran orang tua dan guru sangat krusial dalam mengontrol penggunaan gadget. Ia mengimbau para guru untuk tidak memberikan tugas sekolah yang mengharuskan siswa mengakses internet secara mandiri.
Sebagai alternatif, ia menyarankan agar buku pelajaran tetap dijadikan sumber utama pembelajaran.
Menurutnya, meskipun teknologi memiliki banyak manfaat, penggunaannya tetap perlu diawasi, terutama bagi anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Ia menilai bahwa akses tanpa batas terhadap internet dapat berdampak buruk pada perkembangan mental dan sosial mereka.
“Gadget memang memiliki manfaat dalam mendukung pendidikan, tetapi bagi anak usia sekolah dasar, penggunaannya perlu dibatasi karena mereka bisa mengakses berbagai informasi tanpa filter,” tegasnya.
Tak hanya itu, Iim juga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret dalam menerapkan aturan pembatasan usia penggunaan gadget. Ia menilai bahwa regulasi yang lebih ketat akan membantu menjaga keamanan dan perkembangan mental pelajar.
Di sisi lain, pembatasan ini juga menimbulkan berbagai pro dan kontra. Beberapa orang tua setuju dengan usulan tersebut karena merasa bahwa anak-anak saat ini terlalu bergantung pada gadget.
Namun, ada pula yang berpendapat bahwa pembatasan tersebut sulit diterapkan, mengingat teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam sistem pendidikan modern.
Meski demikian, Iim tetap optimistis bahwa dengan kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan orang tua, kebijakan ini dapat diimplementasikan secara efektif demi menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak dalam mengakses teknologi. (Yud/ADV/DPRD Balikpapan)







