Lintaskaltim.com, PENAJAM PASER UTARA – Hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang saat ini berada di wilayah administrasi Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diharapkan kedepannya tak tergerus atau lenyap.
Menilik jauh 23 tahun ke belakang, Kabupaten PPU hasil pemekaran dari Kabupaten Paser, tepatnya 2002 lalu. Sehingga bahasa Paser menjadi bahasa ibu di wilayah yang juga dikenal dengan Benuo Taka.
Terkait dengan bahasa ibu agar terus ada seiring perkembangan zaman yang semakin modern, Sekretaris Komisi II DPRP PPU, Jamaluddin meminta untuk selalu mengenalkan bahasa ibu kepada generasi penerus.
“Karena kalau kay kita sudah terlambat, tinggal kenalkan kepada generasi atau anak-anak kita,” ucap Jamaluddin, Senin (21/4/2025).
Bahasa daerah menjadi ciri khas alat komunikasi dan instrumen selama berabad-abad, dan banyak faktor yang menyebabkan kekayaan budaya mulai memudar dan tergerus oleh zaman. Faktor tersebut diantaranya, kurangnya penutur bahasa daerah.
Selain itu, adanya pergeseran nilai bahasa daerah yang tidak lagi menjadi jati diri daerah, bahkan malu berbahasa daerah. “Bahasa ibu ini jangan sampai hilang,” harapnya.
Saat ini seluruh sekolah dasar telah diajarkan bahasa daerah dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Hal itu dilakukan untuk terus melestarikan eksistensi kultur atau budaya lokal, khususnya bahasa ibu.
Diinformasikan untuk bahasa ibu yang dimaksud yakni bahasa Paser. Bahkan dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya lokal, saat ini telah diperkuat dengan Perda Kabupaten Penajam Paser Utara Nomor 2 tahun 2017 tentang Pelestarian dan Perlindungan Adat Paser.
“Mudah-mudahan mereka (anak-anak) bisa fasih dengan dituntut berusaha belajar agar bahasa ibu jangan sampai hilang,” harapnya.
Dengan hadirnya IKN Nusantara, dan banyaknya orang pindah dan tinggal di wilayah tersebut, nantinya pasti akan berdampak akan perubahan, bahkan dirinya meyakini hal itu. Ia yakin bahasa daerah selalu ada dan terus dilestarikan.
“Dampak dari sebuah perubahan pasti ada, mungkin perilaku dalam keseharian dan sebagainya termasuk logat ataupun bahasa nantinya akan bergeser. Kami yakin bahasa ibu akan selalu ada,” pungkas Jamaluddin. (wal/ADV/DPRD PPU)







