Lintaskaltim.com, PENAJAM PASER UTARA – Indeks Pertanaman (IP) 2,5 menjadi target dari Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada 2025. Angka ini menjadi rata-rata di tiap-tiap lahan terjadi 2,5 masa tanam dan panen dalam satu tahun.
Namun target itu dinilai cukup sulit untuk dicapai. Sebab, Dinas Pertanian menyebut pola kerja petani untuk mengolah lahan masih kerap melakukan penundaan, apalagi selepas dilakukan panen.
Menyikapi target IP tak menutup kemungkinan belum dapat diwujudkan pada tahun ini, Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati tak menampik hal itu. Menurutnya, petani masih menanam dengan pola lama.
“Itu benar. Karena pola pikir petani kita masih yang dulu, bukan modern,” ucap Sujiati, Senin (21/4/2025).
Petani terjebak pola lama untuk waktu menanam setelah panen. Dimana mendiamkan lahannya sekira satu bulan baru melanjutkan untuk melakukan masa tanam. Dalam arti menunggu batang padi tersisa hancur dengan sendirinya.
“Orangtua dulu berpikirnya setelah panen, lahan itu didiamkan dulu, enggak diolah langsung untuk membuat batang padi membusuk dan jadi pupuk. Jadi menunggu membusuk sendiri,” terang dia.
Jika menerapkan pola modern dengan setelah panen langsung segera untuk menanam, kata dia petani juga akan kesulitan, khususnya terkait dengan biaya. Hal inipun menjadi alasan lain belum menerapkan sepenuhnya pola pengolahan secara modern.
“Kalau langsung (panen-tanam) itu harus ekstrem sama modalnya yang jelas harus mencari pupuk yang membusukan batang padi,” tuturnya.
Meski begitu, dirinya mengatakan secara perlahan pola tanam petani pasca panen mulai berangsur berubah. Dikatakannya, mengubah sesuatu tidak semudah membolakbalikkan telapak tangan.
“Dulunya pernah tahun lalu dicoba, tapi gagal panen. Makanya, enggak mau diulangi lagi. Semua butuh edukasi dan kita harus memberikan pemahaman kepada petani,” tutup Sujiati. (wal/ADV/DPRD PPU)







