Keindahan Hutan Mangrove Margomulyo, Surga Hijau di Tengah Kota Balikpapan

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Kota Balikpapan yang dikenal sebagai kota pesisir menyimpan potensi besar di sektor pariwisata alam. Salah satu destinasi unggulannya adalah Hutan Mangrove Margomulyo, kawasan konservasi yang berada di Jalan AMD Gunung Empat, RT 42, Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Balikpapan Barat.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan, Ratih Kusuma, mengatakan Hutan Mangrove Margomulyo memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan keindahan ekosistem mangrove di tengah kota, sekaligus menjadi ruang edukasi dan konservasi bagi masyarakat dan wisatawan.

“Kawasan ini sempat hits karena sering dijadikan lokasi kegiatan penanaman bakau oleh berbagai pihak, termasuk tokoh nasional. Ini sebenarnya peluang besar untuk terus kita kembangkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan,” ujar Ratih, Kamis (30/10/2025).

Kawasan seluas 16,8 hektare ini menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna khas pesisir, seperti burung, ikan, dan kepiting yang memiliki nilai ekologis tinggi. Selain menjaga keseimbangan lingkungan, hutan mangrove juga berperan penting dalam menopang mata pencaharian masyarakat sekitar, terutama para nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.

Ratih menjelaskan, pemerintah daerah saat ini tengah berfokus pada upaya branding kawasan untuk meningkatkan daya tarik wisata. Berbagai perbaikan fasilitas, peningkatan aksesibilitas, hingga rencana pembangunan akomodasi sedang dipertimbangkan agar wisatawan mendapatkan pengalaman wisata yang lebih lengkap.

“Beberapa wisatawan suka dengan konsep alami. Kalau mereka bisa menginap di sekitar kawasan, menikmati suasana hutan sambil beristirahat, tentu akan lebih menarik,” katanya.

Selain itu, Ratih menilai perlu adanya penambahan atraksi wisata agar kawasan ini semakin hidup. Saat ini, Margomulyo telah memiliki jalur jembatan kayu sepanjang 800 meter yang melintasi pepohonan mangrove, lengkap dengan beberapa gazebo sebagai tempat beristirahat.

Ia menambahkan, kegiatan seperti pementasan budaya, outbound, atau tur edukasi menanam bakau dapat menjadi alternatif atraksi baru yang memperkaya pengalaman wisatawan.

“Jalur tracking di Margomulyo itu bagus sekali untuk jalan pagi. Kalau ditambah kegiatan seperti pementasan atau penanaman mangrove bersama, pengunjung akan punya pengalaman yang lebih berkesan,” ujarnya.

Ratih menegaskan, pengembangan wisata alam harus tetap mengedepankan prinsip konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. “Wisata alam harus tetap menjaga lingkungan, sambil memberi manfaat bagi warga sekitar,” pungkasnya. (yud/ADV/DPOP Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *