Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Cakupan Terduga TB di wilayah kerja Puskesmas Kariangau masih rendah, masih sekitar 50 persen pada triwulan 3 tahun 2025. Banyaknya pekerja pendatang maupun penduduk lokal dengan mobilitas tinggi menyebabkan upaya penanganan pun tak jarang mengalami kendala.
PJ Klaster 4 Penanggulangan Penyakit Menular Puskesmas Kariangau, Kurniawan Wijiraharjo Amd.Kep, yang biasa disapa mas Wawan, memaparkan perkembangan penanganan penyakit TBC di wilayah kerjanya. Hingga tahun ini, tercatat 8 kasus aktif, turun dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2024.
Menurut Mas Wawan, kelompok usia 20–50 tahun masih menjadi kelompok yang paling banyak terdampak. Mayoritas pasien datang berobat setelah mengalami gejala batuk lama, demam, dan penurunan berat badan.
Untuk penemuan kasus, Puskesmas Kariangau mengandalkan mekanisme pasien datang ke fasilitas kesehatan. Namun pada tahun ini upaya tersebut diperkuat melalui program skrining online di sekolah dan perusahaan melalui Google Form Ning Gelis.
“Skrining dilakukan untuk mempercepat deteksi dini dan memutus rantai penularan,” jelasnya pada Jum’at (14/11/2025).
Dalam hal diagnostik, puskesmas belum memiliki alat Tes Cepat Molekuler (TCM) sendiri dan harus bekerja sama dengan fasilitas lain. Meski obat TBC selalu tersedia, untuk pemeriksaan TCM, sesekali ketersediaan catridge TCM mengalami kekosongan, sehingga dialihkan menjadi pemeriksaan BTA (manual) dibantu oleh Analis Laboratorium Puskesmas sendiri.
Saat ini, Puskesmas Kariangau memiliki dua petugas pendamping TBC yang aktif melakukan pemantauan pasien. Mereka memastikan pasien patuh menjalani pengobatan selama enam bulan penuh melalui pemantauan rutin dan pengingat berkala. “Jika pengobatan terhenti, prosesnya harus diulang dari awal,” tegasnya.
Pendampingan juga dilakukan untuk menangani efek samping obat dengan memberikan terapi tambahan sesuai keluhan pasien. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus digencarkan dengan melibatkan kader kesehatan.
Dalam upaya pencegahan penularan, puskesmas menerapkan investigasi kontak dengan memeriksa anggota keluarga yang berisiko atau memiliki gejala. Namun tantangan besar yang masih dihadapi adalah banyaknya suspek yang tidak kembali untuk pemeriksaan dahak sesuai jadwal.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kariangau, dr. Nur Ayu Hasanah menambahkan, pihaknya berharap kedepannya bisa mendapat dukungan dari pemerintah daerah, terutama terkait penyediaan bantuan nutrisi bagi pasien TBC dan keluarga terpapar. Agar bisa meningkagkan kualitas terapi dan juga motivasi untuk sembuh, karena pengobatannya cukup panjang yaitu minimal 6 bulan.
Selain itu, lanjut dia diperlukan juga kebijakan yang mewajibkan perusahaan atau instansi untuk melakukan skrining TBC bagi karyawan di fasilitas kesehatan setempat minimal 1 tahun sekali.
Ke depan, Puskesmas menargetkan peningkatan edukasi dan skrining kepada masyarakat guna menurunkan kasus TBC secara berkelanjutan. “Kami berharap upaya ini dapat meningkatkan cakupan terduga TB di wilayah Kariangau,” tutup dr. Nur Ayu. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)







