Puskesmas Graha Indah Perketat Pemantauan Pasien DBD, Fase Kritis Jadi Fokus Utama

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Graha Indah mendorong peningkatan kewaspadaan dan penguatan mekanisme pemantauan pasien. Hingga November 2025, tercatat 77 kasus DBD, dengan 37 kasus terjadi hanya dalam bulan November melonjak drastis dibanding periode yang sama tahun 2024.

Penanggung jawab program DBD Puskesmas Graha Indah, dr. Zuridha Asyuma Hannaratri, menyampaikan bahwa pemantauan kini dilakukan lebih ketat berdasarkan tiga fase penyakit: fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Setiap pasien, terutama yang menjalani perawatan rawat jalan dipastikan mendapatkan pemantauan ketat dari tenaga kesehatan dan keluarga.

“Kami melakukan pemeriksaan fisik harian serta pemeriksaan darah lengkap setiap 24 jam, termasuk Hb, hematokrit, dan trombosit,” jelas dr. Zuridha, Sabtu (22/11/2025)

Pemeriksaan berkala ini penting untuk mendeteksi lebih awal terjadinya penurunan trombosit atau kebocoran plasma yang mengarah ke fase kritis.

Selain pemantauan medis, keluarga pasien turut dilibatkan. Mereka diminta memperhatikan tanda bahaya seperti:
mual dan muntah berulang,
bintik merah atau perdarahan,
demam tinggi yang tidak mereda,
tanda dehidrasi, lemas ekstrem atau gelisah.

Pelibatan keluarga dinilai penting untuk mendukung deteksi dini, mengingat fase kritis DBD biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-6 ketika demam mulai turun.

Untuk pasien dengan kondisi berat atau memiliki tanda bahaya, puskesmas telah memperketat alur rujukan. Prosedur meliputi. Triase dan deteksi dini saat pasien datang, Pemeriksaan NS1 dan darah lengkap pada tahap awal, Stabilisasi cairan sesuai kebutuhan klinis.

Kemudian, Penentuan kriteria rujukan berdasarkan pedoman nasional DBD.
Koordinasi transportasi dan komunikasi dengan rumah sakit rujukan dan Edukasi keluarga mengenai kondisi pasien dan langkah lanjutan sebelum dirujuk.

“Semua langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan cepat dan tepat, mengingat kondisi dapat berubah dalam hitungan jam,” tambah dr. Zuridha.

Selain penanganan pasien, upaya pencegahan terus diperkuat melalui,
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus, Fogging selektif pada wilayah dengan kasus baru disertai hasil survei jentik positif dan Pemantauan berkala oleh kader jumantik di setiap RT.

Namun, puskesmas masih menghadapi tantangan di lapangan. “Kerja sama dengan ketua RT dan kelurahan sudah sangat membantu, tetapi kesadaran sebagian warga masih rendah. Selain itu, jumlah kader jumantik yang terbatas membuat pemantauan tidak selalu optimal,” pungkasnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *