Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Graha Indah semakin menjadi perhatian serius. Hingga November 2025, tercatat 77 kasus, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan pada November saja, jumlah kasus baru mencapai 37 kasus, menandakan tingginya aktivitas penularan di tengah masyarakat.
Penanggung jawab program DBD Puskesmas Graha Indah, dr. Zuridha Asyuma Hannaratri, menyampaikan bahwa kader juru pemantau jentik (jumantik) tetap menjadi ujung tombak dalam pengendalian DBD di tingkat rumah tangga.
“Kader secara berkala memeriksa jentik, memberikan edukasi, dan melaporkan hasil pemantauan. Namun tantangannya adalah partisipasi warga yang masih rendah,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025)
Menurut dr. Zuridha, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri turut berkontribusi terhadap tingginya kasus.
Selain itu, buruknya sanitasi lingkungan, banyaknya tempat penampungan air yang tidak tertutup, hingga kebiasaan menumpuk barang bekas menjadi faktor risiko utama.
Di sisi lain, masih banyak warga yang beranggapan bahwa fogging adalah solusi utama, padahal metode ini hanya mematikan nyamuk dewasa dan tidak efektif jika jentik tetap berkembang biak.
“Persepsi keliru ini membuat masyarakat kurang disiplin menjalankan 3M Plus, padahal inilah upaya paling efektif dalam jangka panjang,” jelasnya.
Untuk menekan kasus, Puskesmas Graha Indah mengintensifkan berbagai program pengendalian, di antaranya. Program PSN dan 3M Plus (menguras, menutup, memanfaatkan kembali barang bekas, serta upaya tambahan seperti memelihara ikan pemakan jentik).
Kemudian, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, agar setiap keluarga ikut bertanggung jawab memantau jentik di rumah masing-masing. Kampanye edukasi melalui media sosial untuk menjangkau warga secara lebih luas dan Pelatihan peningkatan kapasitas kader jumantik, terutama dalam deteksi dini dan pelaporan jentik.
Tak hanya itu, koordinasi aktif dengan RT dan kelurahan guna memperkuat pelaksanaan PSN massal dan mobilisasi warga saat terjadi peningkatan kasus.
Peran RT dan kelurahan dinilai sangat krusial dalam pelaksanaan lapangan, mulai dari pelaporan kasus, pendataan wilayah rawan, hingga penggerakan masyarakat saat dilakukan Gertak PSN.
“Dukungan lintas sektor sangat membantu, tetapi kami masih membutuhkan kader yang lebih proaktif dan kesadaran warga yang lebih tinggi untuk memutus mata rantai penularan,” tutup dr. Zuridha. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)







