
Lintaskaltim.com, TENGGARONG – Kisah Aidil Amin tentang bagaimana ia merawat seekor bekantan yang terluka akibat tembakan pemburu liar masih segar dalam ingatannya. Kejadian itu terjadi di Sungai Hitam, Kelurahan Kampung Lama, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada awal 1990-an, ketika Aidil masih remaja.
“Para pemburu itu memang sengaja menembaki bekantan karena ingin mengubah habitatnya menjadi lahan sawit,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Hitam Lestari itu, Rabu (27/3/2024).
Namun, keberadaan bekantan sangat rentan terancam, terutama di tepi sungai, karena sering kali habitatnya beralih fungsi menjadi permukiman atau pertanian.
Pada masa itu, luas habitat bekantan mencapai 29.500 km2, namun sekitar 60% di antaranya telah beralih fungsi menjadi lahan lain. Sementara itu, di Kecamatan Samboja, perubahan ekologis mengganggu keseimbangan Sungai Hitam, baik di hulu maupun hilir, karena adanya pertambangan batu bara di hulu dan alih fungsi lahan di hilir.
Aidil bersama lima pemuda lainnya telah belasan tahun melakukan upaya pelestarian bekantan dan habitatnya. Mereka membersihkan sampah di Sungai Hitam, menjaga bekantan dari perburuan liar, serta menanam mangrove jenis rambai di sepanjang sungai.
Namun, mereka menyadari bahwa upaya mereka tidak bisa dilakukan sendirian. Oleh karena itu, mereka membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Hitam Lestari, yang kemudian mendapatkan dukungan dari sebuah perusahaan migas untuk mengembangkan Program Ekowisata Sungai Hitam Lestari.
“Kami mendapatkan banyak dukungan setelah itu. Tidak hanya soal pelestarian, tetapi juga pengembangan ekowisata,” kata pria yang mendapat penghargaan Kandidat Kalpataru 2020 itu.
Keberadaan Pokdarwis menjadi wadah koordinasi dan lembaga hukum yang menaungi aktivitas pelestarian bekantan. Mereka juga mengembangkan ekowisata berbasis pelestarian bekantan dengan memanfaatkan sempadan sungai yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Ekowisata Sungai Hitam Lestari menawarkan susur sungai sembari melihat bekantan liar, menjadi salah satu destinasi wisata andalan Samboja. Para wisatawan dapat melihat kelompok bekantan pada waktu tertentu dengan tarif yang ditentukan.
“Waktu terbaik untuk melihat itu jam 7 pagi sampai 10 pagi, dan kalau sore itu jam 3 sampai jam lima,” terang Aidil.
Di samping menjadi daya tarik wisata, Pokdarwis SHL juga mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) anggotanya, seperti pengolahan buah nipah menjadi klapertart dan produksi teh jeruju.
Dengan upaya yang dilakukan oleh Aidil dan kelompoknya, serta dukungan dari berbagai pihak, pelestarian bekantan dan ekowisata di Sungai Hitam Lestari semakin berkembang dan menjadi salah satu daya tarik wisata yang unik di Kalimantan Timur. (Mha/ADV/Diskominfo Kukar)













