Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Di antara perbukitan hijau di Jalan Soekarno-Hatta KM 8, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, berdiri sebuah destinasi wisata yang tumbuh dari kesederhanaan — Bukit Kebo.
Awalnya hanya hamparan padang rumput dengan beberapa kerbau yang merumput tenang, kini tempat ini menjelma menjadi salah satu ikon wisata alam baru Balikpapan yang sarat nilai lokal dan kesadaran ekologis.
Nama “Bukit Kebo” sendiri berasal dari kata “kebo” yang dalam bahasa Jawa berarti kerbau. Dahulu kawasan ini memang merupakan area peternakan, sebelum kemudian ramai dikunjungi warga karena panorama hijaunya yang menenangkan.
Keindahan alami itu sempat viral di media sosial, menarik perhatian wisatawan dan pelaku kreatif lokal untuk datang berfoto, berkemah, atau sekadar menikmati udara segar.
Wisata Alam dengan Sentuhan Lokal
Kini, Bukit Kebo berkembang menjadi ruang wisata yang tetap menjaga ruh alaminya.
Gazebo, area glamping, hingga beberapa villa telah dibangun tanpa mengubah karakter lanskap. Bahkan, pengelola tengah merancang skybridge atau jembatan penghubung antarbukit untuk memudahkan akses sekaligus menambah daya tarik bagi wisatawan.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan, C.I. Ratih Kusuma, melihat perkembangan Bukit Kebo sebagai wujud nyata kreativitas warga dalam membangun pariwisata berkelanjutan.
“Dulu Bukit Kebo itu sederhana, sekarang sudah jauh lebih hidup. Tapi yang penting, semangat menjaga keseimbangan alam tetap dijaga,” ujar Ratih.
Ia menilai, kemajuan Bukit Kebo tidak hanya menambah destinasi wisata, tetapi juga memperluas ruang ekspresi masyarakat — dari prewedding, photoshoot, hingga wisata glamping yang kini digemari generasi muda.
Ratih bahkan sempat melakukan sesi pemotretan di sana, sebagai bentuk dukungan dan promosi terhadap potensi wisata lokal Balikpapan Timur.

Menjaga Alam, Menumbuhkan Ekonomi
Meski terus berkembang, Ratih mengingatkan bahwa kawasan ini masih memiliki unsur alam liar yang harus dilindungi.
“Kalau mau ada event, sebaiknya yang sifatnya alamiah seperti sarasehan atau camping. Kalau konser besar, khawatir malah mengganggu hewan di sana,” pesannya.
Selain mengandalkan panorama alam, pengelola Bukit Kebo juga mulai membuka ruang bagi UMKM lokal, meski skalanya masih terbatas. Produk olahan warga seperti makanan ringan dan minuman tradisional perlahan mulai menjadi bagian dari pengalaman wisata di sana.
Ke depan, konsep sport tourism — seperti hiking dan olahraga alam terbuka — akan dikembangkan agar wisatawan bisa menikmati petualangan tanpa merusak ekosistem.
Ratih menyebut, pola pengembangannya mirip dengan Desa Wisata Meranti, di mana wisata, UMKM, dan kelestarian lingkungan berjalan seimbang.
“Mereka ingin melihat dulu animo masyarakat. Perlahan-lahan, konsepnya akan matang,” katanya.
Simbol Pariwisata Hijau Balikpapan
Dengan pendekatan yang hati-hati dan berbasis kearifan lokal, Bukit Kebo kini tak sekadar menjadi tempat rekreasi, melainkan simbol baru dari pariwisata Balikpapan yang berwawasan lingkungan — menyatukan keindahan alam, kreativitas warga, dan rasa tanggung jawab terhadap bumi.
Di tengah gempuran wisata modern, Bukit Kebo hadir dengan kesederhanaan yang menenangkan — mengingatkan kita bahwa kadang, keindahan sejati justru tumbuh dari tempat yang paling alami. (*/ADV/DPOP Balikpapan)







