Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Kariangau menghadapi tantangan besar dalam mengatasi persoalan gizi dan stunting di wilayahnya. Kepala Puskesmas Kariangau, dr. Ayu Nur Hasanah, menyebut bahwa permasalahan nutrisi tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat setempat.
Menurutnya, banyak kasus balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Kariangau terjadi karena kemampuan finansial orang tua yang terbatas, sehingga sulit memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi anak-anak mereka.
“Tantangannya, kita kejar-kejaran dengan masalah nutrisi dan infeksi. Gizi itu kan sangat dipengaruhi oleh perekonomian masyarakat. Kalau daya belinya rendah, otomatis asupan gizi anak juga tidak tercukupi,” ujar dr. Ayu saat ditemui usai peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di Balai Kota Balikpapan, Rabu (12/11/2025).
Ia menjelaskan, sebagian besar keluarga di wilayah Kariangau masih bergantung pada pekerjaan informal dengan pendapatan yang tidak menentu. Situasi ini berdampak langsung terhadap pola makan dan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, terutama untuk ibu hamil, bayi, dan balita.
“Masalah gizi itu tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Perlu dukungan dari sektor sosial dan ekonomi, termasuk perumahan yang layak. Karena akar masalahnya memang kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Ayu menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar penanganan stunting bisa lebih efektif. Upaya peningkatan kesejahteraan melalui pemberdayaan ekonomi lokal dan pengembangan UMKM dinilai menjadi langkah penting untuk memperbaiki kondisi gizi keluarga secara berkelanjutan.
“Ke depan, harus digiatkan kembali bagaimana masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraannya lewat UMKM. Kalau ekonominya kuat, otomatis kemampuan mereka menyediakan makanan bergizi juga meningkat,” jelasnya.
Puskesmas Kariangau sendiri telah melakukan berbagai langkah promotif dan preventif, seperti pemberian edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko stunting, serta pemantauan tumbuh kembang anak. Namun, tanpa dukungan ekonomi yang memadai, hasilnya belum bisa optimal.
“Kita bisa memberikan penyuluhan dan pemantauan, tapi kalau kemampuan ekonominya tidak mendukung, ya sulit. Karena untuk membeli bahan makanan bergizi pun butuh uang,” ujarnya.
Melalui momentum HKN ke-61, dr. Ayu berharap ada kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar permasalahan gizi bisa diatasi secara menyeluruh.
“Kesehatan itu tidak bisa berjalan sendiri. Semua sektor harus bergerak bersama. Harapannya, dengan dukungan yang lebih luas, anak-anak di Kariangau bisa tumbuh sehat dan bebas stunting,” pungkasnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)







