Masuknya Pendatang Berisiko Bawa Penyakit, Puskesmas Kariangau Perkuat Capaian Imunisasi

banner 728x250

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Di tengah pesatnya aktivitas industri di wilayah Kariangau, Puskesmas Kariangau terus memperkuat upaya perlindungan kesehatan anak-anak melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Mobilitas penduduk yang tinggi, keluar masuknya para pekerja dan pendatang menjadi salah satu alasan pentingnya perlindungan imunisasi diperkuat.

Kepala Puskesmas Kariangau, dr. Nur Ayu Hasanah, menyampaikan bahwa wilayah industri seperti Kariangau memiliki kerentanan tersendiri terhadap penyebaran penyakit menular. Saat sweeping BIAS Tahap II di SDN 20 Balikpapan Barat, Kamis (27/11/2025), ia mengingatkan bahwa kondisi ini bukan sekadar isu teknis kesehatan, tetapi menyangkut masa depan anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut.

“Kariangau adalah daerah industri. Banyak orang keluar-masuk setiap hari, dan tidak semuanya datang dalam kondisi sehat. Karena itu imunisasi menjadi benteng terbaik untuk anak-anak,” jelas dr. Ayu dengan nada tegas namun penuh kepedulian.

Dia mencontohkan penyakit seperti malaria, TBC, difteri, hingga infeksi kulit yang bisa saja terbawa oleh pendatang dan menyebar tanpa disadari. Beberapa dari penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi, tetapi jika sudah menyerang, penanganannya bisa sangat sulit dan membutuhkan biaya besar.

Difteri, misalnya, merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar. Namun ketika seseorang terjangkit, penanganannya tidak hanya memerlukan perawatan intensif, tetapi juga memaksa semua orang yang pernah kontak langsung untuk meminum obat pencegahan yang memiliki risiko efek samping.

“Kalau sudah terkena, dampaknya tidak hanya pada anak itu sendiri, tapi juga seluruh orang di sekitarnya,” tambahnya.

Tak hanya itu, dr. Ayu juga memberi perhatian khusus pada imunisasi tetanus, terutama untuk anak perempuan. Ia menjelaskan bahwa kekebalan terhadap tetanus sangat penting untuk mencegah tetanus neonatorum penyakit mematikan yang dapat terjadi pada bayi baru lahir yang tertular dari ibu dengan kekebalan rendah.

“Jika seorang perempuan tidak memiliki kekebalan tetanus, risiko saat melahirkan meningkat drastis. Tetanus neonatorum tidak punya obat dan risikonya fatal,” ujarnya.

Upaya Puskesmas Kariangau bukan sekadar mengejar target angka, tetapi menjamin setiap anak memiliki perlindungan yang layak. Target capaian minimal 95 persen pada program BIAS 2025 ditetapkan sebagai batas aman untuk menciptakan kekebalan kelompok di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Bagi dr. Ayu dan timnya, imunisasi adalah wujud kasih sayang orang tua kepada anak. Di tengah derasnya arus pendatang dan dinamika kawasan industri, perlindungan melalui imunisasi menjadi benteng penting agar anak-anak Kariangau dapat tumbuh sehat, kuat, dan terhindar dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *