Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Kekurangan tenaga pendidik di Kota Balikpapan kian mengkhawatirkan. Saat ini, kebutuhan guru tercatat masih defisit sekitar 700 orang, kondisi yang dinilai menjadi ancaman nyata bagi kualitas dan keberlangsungan pendidikan di daerah.
Persoalan ini mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kota Balikpapan bersama mahasiswa Universitas Balikpapan (Uniba), Senin (6/4/2026).
Dalam forum tersebut, DPRD mengakui bahwa kekurangan guru bukan lagi persoalan biasa, melainkan masalah serius yang membutuhkan penanganan cepat.
Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan, Gasali, menyebutkan bahwa keterbatasan kuota Aparatur Sipil Negara (ASN) dari pemerintah pusat menjadi salah satu penyebab utama belum terpenuhinya kebutuhan tenaga pendidik.
“Dari total kekurangan sekitar 700 guru, baru sekitar 400 yang bisa diisi melalui tenaga kontrak. Sisanya masih belum terpenuhi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi ini semakin kompleks karena pembangunan sekolah baru terus berjalan, sementara penambahan tenaga pendidik tidak sebanding. Akibatnya, beban kerja guru yang ada semakin meningkat dan berpotensi memengaruhi kualitas pembelajaran.
Anggota Komisi IV DPRD, Muhammad Hamid, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Menurutnya, DPRD mendorong berbagai skema alternatif, termasuk rekrutmen tenaga non-ASN, sebagai langkah cepat untuk menutup kekurangan.
“Kita harus realistis. Kebutuhan guru mendesak, sehingga langkah-langkah alternatif perlu ditempuh sambil menunggu kebijakan pusat,” katanya.
Namun demikian, solusi jangka pendek tersebut dinilai belum cukup. Sejumlah pihak menilai diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif agar persoalan kekurangan guru tidak terus berulang setiap tahun.
Mahasiswa yang hadir dalam RDP juga menyoroti dampak langsung dari defisit tenaga pendidik, mulai dari kurang optimalnya proses belajar mengajar hingga potensi menurunnya kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Sementara itu, Anggota Komisi IV, Nelly Turuallo, mengingatkan bahwa kekurangan guru juga dipicu oleh banyaknya tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun. Tanpa percepatan rekrutmen, selisih kebutuhan dan ketersediaan guru akan semakin melebar.
“Ini harus jadi perhatian bersama. Kalau tidak segera ditangani, dampaknya akan dirasakan langsung oleh siswa,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, defisit 700 guru bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa dunia pendidikan di Balikpapan tengah menghadapi tekanan serius. Tanpa langkah cepat dan terukur, kualitas pendidikan dikhawatirkan akan semakin tergerus di masa mendatang. (ADV/DPRD Balikpapan)







