Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Selain menyoroti isu kesehatan mental dan trauma pengasuhan, Puskesmas Karang Joang juga mengangkat pentingnya penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtPA) dalam rangkaian Seminar Ilmiah Hari Kesehatan Nasional ke-61, Sabtu (15/11/2025). Isu ini dinilai mendesak karena masih banyak kasus kekerasan yang terjadi di tingkat keluarga namun tidak dilaporkan secara terbuka.
Menurut dr. Emi Puspitasari, laporan kasus kekerasan biasanya diterima melalui berbagai jalur, baik dari warga yang datang langsung, kader kelurahan, hingga koordinasi bersama Bhabinkamtibmas. Bentuk kekerasan yang dilaporkan pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, psikis, hingga penelantaran.
“Korban yang datang akan kami lakukan pencatatan, pemeriksaan, dan pengobatan. Bila diperlukan, kami rujuk ke kepolisian untuk proses visum, atau ke rumah sakit sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Dalam proses penanganan, puskesmas juga menjalin kerja sama erat dengan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Dinas Sosial Kota Balikpapan. Kolaborasi ini memastikan korban mendapatkan pendampingan psikososial dan perlindungan yang komprehensif.
Namun, dr. Emi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah minimnya keberanian korban untuk melapor, terutama ketika pelaku masih anggota keluarga.
“Tidak jarang keluarga besar memilih menutupi kasus,” ujarnya. Kondisi ini membuat banyak kekerasan tidak terungkap dan korban tidak mendapatkan pertolongan yang memadai.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Puskesmas Karang Joang memperkuat koordinasi dengan kader kelurahan dan Bhabinkamtibmas serta rutin mengadakan sosialisasi pencegahan kekerasan kepada masyarakat. Edukasi publik menjadi salah satu strategi penting agar warga memahami mekanisme pelaporan dan pentingnya melindungi korban, terutama anak.
Salah satu bentuk edukasi tersebut diwujudkan dalam Seminar Ilmiah HKN yang menggabungkan tiga isu utama: kesehatan mental Gen Z, trauma pengasuhan, dan perlindungan perempuan dan anak. Melalui seminar ini, peserta diajak memahami keterkaitan ketiga isu tersebut serta langkah-langkah pencegahannya.
Acara yang dihadiri 52 peserta, mulai dari warga, guru PAUD/KB, ustadz, ustadzah, dosen hingga mahasiswa, mendapat respons positif. Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memberikan dukungan bagi korban atau individu yang pernah mengalami trauma maupun kekerasan. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)







