Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Kariangau mencatat prestasi membanggakan setelah berhasil meraih penghargaan dari Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud atas capaian cakupan partisipasi masyarakat di Posyandu yang mencapai hampir 100 persen.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wali Kota pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, yang digelar di Halaman Balai Kota Balikpapan, Rabu (12/11/2025).
Kepala Puskesmas Kariangau, dr. Nur Ayu Hasanah, mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas pencapaian tersebut. Ia menyebut penghargaan itu sebagai bukti nyata komitmen seluruh tim Puskesmas dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran kesehatan, khususnya di tingkat keluarga.
“Alhamdulillah, dengan adanya penghargaan ini menjadi bukti bahwa Kariangau itu bisa. Mau ada atau tidak ada penghargaan, sejak 2024 kami memang sudah bekerja keras karena angka stunting di Balikpapan cukup tinggi,” ujarnya.
Melalui kolaborasi bersama kelurahan dan lintas sektor, Puskesmas Kariangau berhasil meningkatkan cakupan D/S (jumlah balita ditimbang dibanding jumlah sasaran) secara signifikan.
“Tahun sebelumnya cakupan D/S rata-rata hanya 60 persen. Sekarang sudah mencapai 88 persen. Harapannya, semakin banyak balita yang terdeteksi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” jelas dr. Ayu.
Ia menuturkan, dari sekitar 680 balita sasaran, seluruh Posyandu di wilayah Kariangau berhasil menggerakkan warga untuk datang menimbang bayinya pada Oktober lalu.

Tak hanya meningkatkan partisipasi, Puskesmas Kariangau juga menghadirkan inovasi Tas Batik Emas atau Atasi Balita Stunting untuk Generasi Emas. Program ini dirancang untuk memperkuat peran Posyandu dalam pencegahan stunting melalui kegiatan edukatif dan pelayanan terpadu.
“Melalui Tas Batik Emas, Posyandu tidak hanya fokus pada bayi dan balita, tapi juga melayani remaja, dewasa, dan lansia. Ada penyuluhan gizi, pemberian makanan tambahan, hingga pemeriksaan kesehatan,” terangnya.
Untuk penanganan kasus gizi, Puskesmas Kariangau juga menyalurkan makanan tambahan harian secara berjenjang, 56 hari untuk gizi buruk, 28 hari untuk gizi kurang, dan 14 hari untuk balita dengan berat badan stagnan.
Sejak Mei 2025, hampir seluruh Posyandu di wilayah Kariangau telah menyelenggarakan Program Makanan Tambahan (PMT) secara rutin dengan dukungan CSR perusahaan mitra.
“Satu Posyandu disupport dua CSR setiap kegiatan. Ini sangat membantu dan jadi pemicu meningkatnya kunjungan bayi dan balita dari waktu ke waktu,” tambahnya.
dr. Ayu berharap, kolaborasi lintas sektor dan dukungan CSR dapat terus berlanjut agar semangat pemberdayaan masyarakat melalui Posyandu semakin kuat.
“Harapan kami sederhana, agar anak-anak di Kariangau tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi generasi emas masa depan,” tutupnya. (yad/ADV/Dinkes Balikpapan)







