Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Rencana pemerintah mengalihkan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg) ke Compressed Natural Gas (CNG) mendapat perhatian dari Anggota Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Japar Sidik. Ia menilai aspek keamanan dan kesiapan implementasi harus menjadi prioritas sebelum kebijakan tersebut diterapkan kepada masyarakat.
Menurut Japar, pemerintah saat ini masih mematangkan berbagai aspek terkait penggunaan CNG sebagai energi alternatif pengganti LPG 3 kg, termasuk penyediaan tabung yang direncanakan memiliki ukuran serupa dengan tabung LPG yang digunakan saat ini.
CNG sendiri merupakan gas alam yang dipadatkan dengan tekanan tinggi dan diproyeksikan memiliki harga sekitar 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG. Namun demikian, Japar menilai masyarakat masih membutuhkan penjelasan yang komprehensif mengenai mekanisme penggunaan, distribusi, hingga standar keselamatan dari energi alternatif tersebut.
“Sejauh ini belum ada sosialisasi yang menjelaskan secara detail bagaimana bentuk dan sistem penggunaan CNG tersebut. Masyarakat tentu perlu mendapatkan informasi yang jelas sebelum program ini diterapkan,” ujar Japar kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Ia mengingatkan pemerintah agar belajar dari pengalaman program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas untuk kendaraan yang pernah dijalankan beberapa tahun lalu. Meski sempat menarik minat masyarakat karena lebih ekonomis, program tersebut pada akhirnya tidak berkembang secara optimal.
Menurutnya, salah satu penyebab kurang diminatinya program tersebut adalah kekhawatiran masyarakat terhadap risiko kebocoran dan faktor keselamatan penggunaan bahan bakar gas.
“Pengalaman program konversi BBM ke gas untuk kendaraan harus menjadi pelajaran. Selain harga yang terjangkau, faktor keselamatan dan kenyamanan pengguna juga menjadi pertimbangan utama masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Japar menilai Dimethyl Ether (DME) dapat menjadi alternatif yang lebih mudah diterima masyarakat sebagai pengganti LPG. DME merupakan bahan bakar gas yang diproduksi melalui proses gasifikasi batu bara dan telah lama diwacanakan pemerintah sebagai substitusi LPG.
Menurutnya, DME memiliki karakteristik yang hampir sama dengan LPG, baik dari sisi bentuk maupun cara penggunaannya. Karena itu, masyarakat tidak perlu melakukan banyak penyesuaian terhadap peralatan rumah tangga yang telah digunakan selama ini.
“DME lebih mendekati LPG yang digunakan saat ini. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaannya juga tidak memerlukan modifikasi yang rumit pada kompor rumah tangga,” katanya.
Selain lebih praktis, penggunaan DME juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri.
Japar berharap pemerintah dapat memastikan kesiapan infrastruktur, sistem distribusi, serta jaminan keamanan sebelum merealisasikan program penggantian LPG 3 kg dengan energi alternatif baru.
“Apapun kebijakan yang diambil, yang terpenting adalah masyarakat merasa aman, mudah menggunakannya, dan tidak terbebani dalam proses transisinya,” pungkasnya. (ADV/DPRD Balikpapan)












