Pedagang Loak Enggan Pindah ke Km 12, Khawatir Kehilangan Pembeli

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Rencana relokasi pedagang loak besi dari kawasan Kampung Baru Tengah ke Kilometer 12, Karang Joang, Balikpapan Utara, masih menghadapi kendala. Sejumlah pedagang disebut keberatan pindah karena khawatir kehilangan pembeli di lokasi baru.

Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, mengatakan kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan relokasi belum berjalan maksimal. Selain persoalan anggaran, pemerintah masih perlu melakukan komunikasi intensif dengan para pedagang.

“Perencanaan awal untuk relokasi pasar loak tetap berjalan. Tetapi memang belum maksimal karena pertama terkendala dengan biaya anggaran. Kemudian yang kedua, perlu komunikasi intens lagi kepada kawan-kawan yang kemarin di Pasar Loak untuk bisa direlokasi,” kata Fauzi, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, pedagang selama ini berjualan di kawasan Kampung Baru Tengah yang relatif ramai dan berada lebih dekat dengan pusat kota. Kondisi tersebut berbeda dengan lokasi baru di Kilometer 12 yang dinilai pedagang cukup masuk ke dalam dan cenderung sepi.

“Biasanya pasar loak yang existing itu ramai. Kemudian lokasinya juga di pusat kota. Kemudian berpindah ke Karang Joang yang lokasinya terlalu masuk ke dalam, kemudian cenderung sepi,” ujarnya.

Fauzi menyebut kondisi itu membuat pedagang khawatir aktivitas perdagangan tidak akan berjalan seperti di lokasi sebelumnya. Mereka mempertimbangkan jumlah pembeli yang kemungkinan tidak sebanyak ketika masih berjualan di kawasan Kampung Baru Tengah.

“Pasar rakyat saja tidak jalan, apalagi pasar loak. Itu yang menjadi kekhawatiran mereka. Sehingga mereka akhirnya berpikir kalau kita pindah ke sana sepertinya tidak maksimal dan tidak laku,” jelasnya.

Padahal, Pemerintah Kota Balikpapan telah menyiapkan sekitar 33 unit kios atau petak untuk mendukung relokasi pedagang loak ke kawasan Kilometer 12.

Fauzi mengatakan, pemerintah perlu memberikan pendekatan dan edukasi kepada pedagang agar kekhawatiran tersebut dapat dibicarakan bersama.

“Nanti perlu pendekatan dan edukasi agar mereka bisa dengan senang hati pindah ke sana,” katanya.

Dia menambahkan, kondisi lokasi yang saat ini dinilai sepi bukan berarti tidak dapat dikembangkan. Menurutnya, kawasan tersebut tetap berpotensi ramai apabila didukung anggaran, infrastruktur, dan program yang memadai.

“Kalau anggarannya tersedia, kemudian bisa memenuhi infrastruktur dan lain sebagainya, yang tadinya sepi pasti bisa ramai. Tapi kalau anggarannya terbatas juga tidak bisa maksimal,” pungkasnya. (ADV/DPRD Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *