Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN — Trauma pengasuhan menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam Seminar Ilmiah Puskesmas Karang Joang, Sabtu (15/11/2025), yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61. Meski kasusnya tidak selalu muncul secara langsung di fasilitas kesehatan, menurut pemateri dr. Emi Puspitasari, indikasi trauma justru lebih sering terlihat oleh guru dan tenaga pendidik yang sehari-hari berinteraksi dengan anak.
Dalam paparannya, dr. Emi menjelaskan bahwa trauma pengasuhan dapat menimbulkan dampak jangka pendek seperti sensitivitas berlebih, rasa takut, hingga gejala intrusi, yakni reaksi emosional yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman traumatis di masa lalu.
“Kalau tidak ditangani, trauma bisa berkembang menjadi life trap atau jebakan hidup yang mempengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa,” ujarnya.
Life trap tersebut mencakup berbagai pola maladaptif seperti abandonment, mistrust & abuse, emotional deprivation, dependence, vulnerability, hingga failure dan subjugation. Pola ini, lanjutnya, membuat seseorang terjebak dalam skema berpikir negatif yang berdampak pada hubungan sosial, pekerjaan, hingga kesehatan mental.
Di puskesmas, deteksi dini dilakukan melalui anamnesis dan konseling. Jika ditemukan gejala seperti kecemasan, depresi, atau indikasi gangguan psikologis yang lebih berat, pasien akan dirujuk untuk mendapatkan penanganan lanjutan dari dokter spesialis jiwa.
Dalam seminar tersebut, dr. Emi juga membagikan sejumlah materi dan pendekatan terapeutik yang pernah ia dalami, termasuk konsep life trap, neurolinguistic programming, family therapy ala Virginia Satir, gestalt, inner child healing, hingga psikodrama. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan peserta, baik orang tua maupun remaja, dalam memahami kesehatan mental dan pola pengasuhan yang sehat.
Kegiatan ini mendapat respons positif dengan dihadiri 52 peserta yang terdiri dari warga, guru PAUD/KB, ustadz dan ustadzah, dosen, hingga mahasiswa. Seminar ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang memperlihatkan tingginya antusiasme peserta terhadap isu kesehatan mental keluarga. (Yud/ADV/Dinkes Balikpapan)













