Dari Ruang ICCU hingga Museum Beijing: Kisah Inspiratif Sairi, Perawat yang Jadi Pelukis Internasional

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Perjalanan hidup Sairi, A.Md.Kep, perawat Puskesmas Karang Joang, adalah contoh nyata bagaimana bakat dan ketekunan dapat membawa seseorang mencapai panggung dunia. Dari masa kecil yang sederhana di Manggar, kini karyanya dipamerkan di berbagai negara dan berdiri sejajar dengan karya maestro dunia.

Ditemui oleh lintaskaltim.com pada Sabtu (22/11/2025), Sairi bercerita bahwa sejak SD, ia sudah dikenal memiliki bakat seni luar biasa. Apa pun yang dilihatnya dapat ia tuangkan ke dalam gambar. Di SMP, ia bukan hanya siswa berprestasi akademik, tetapi juga menjadi rujukan utama teman-temannya untuk urusan menggambar. Ia bahkan pernah diminta sekolah menggantikan guru seni rupa.

Namun perjalanan kariernya tidak langsung menuju dunia seni. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya memilih jalur pendidikan yang menjamin biaya, yaitu Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), yang saat itu memberikan fasilitas pendidikan penuh. Ia lulus dengan prestasi baik dan bekerja sebagai perawat profesional di beberapa fasilitas kesehatan besar, termasuk RS Pertamina Sangatta dan RS Tarakan.

Selama bertahun-tahun bekerja di ruang ICCU dan ruang operasi, bakat seninya sempat terpendam. Hingga ia kembali ke Balikpapan dan bertugas di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan, dan sekarang, di Puskesmas Karang Joang Dari situlah minat seninya bangkit kembali. Sairi mulai aktif membaca literatur seni rupa, berdiskusi dengan para pelukis senior, dan menghabiskan banyak waktu mengasah teknik melukis.

Ketekunannya membuahkan hasil. Ia mulai diundang dalam berbagai pameran nasional dan internasional. Pada 2007, ia tampil di Bentara Budaya Yogyakarta. Tahun 2010, ia diundang Galeri Nasional untuk pameran besar bertajuk “Restropkesi”, yang menyandingkan karyanya dengan para maestro Indonesia.

Pencapaian tertingginya terjadi pada 2012, ketika ia terpilih sebagai finalis Beijing International Art Biennale. Karyanya dipamerkan bersama 150 seniman dari 100 negara, dan menjadi perwakilan Indonesia dengan peringkat tertinggi. Salah satu karya finalisnya bahkan masih tersimpan rapi di rumahnya sebagai koleksi pribadi, dengan harapan suatu hari dapat dipajang di Istana Presiden di IKN.

Pada Agustus 2025, karyanya kembali dipamerkan bersama para maestro seperti Nasirun, Bagong Kussudiardjo, Joko Pekik, dan Heriadi mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pelukis paling berpengaruh dari Kalimantan Timur.

Karya-karyanya telah dikoleksi berbagai institusi bergengsi seperti Galeri Nasional, Bentara Budaya Jakarta dan Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemerintah Kota Balikpapan, hingga kolektor mancanegara.

Dalam berkarya, Sairi banyak mengangkat budaya Dayak pedalaman dan kearifan lokal Kalimantan dengan gaya hiperrealis-surealis dekoratif yang menjadi ciri khasnya.

Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak takut bermimpi. “Jadilah raja dalam karyamu sendiri. Anggap persaingan sebagai palu untuk menempa diri agar semakin berkilau,” ujarnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *