Sairi, Perawat Puskesmas Karang Joang yang Mengharumkan Nama Balikpapan di Dunia Seni Rupa

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Tidak banyak perawat yang sekaligus dikenal sebagai seniman berskala internasional. Namun hal itu justru dimiliki oleh Sairi, A.Md.Kep, perawat Puskesmas Karang Joang yang kiprahnya dalam dunia seni rupa telah membawa nama Kalimantan Timur hingga ke panggung global.

Lahir dan dibesarkan di kawasan Manggar, Balikpapan Timur, sejak kecil Sairi telah menunjukkan bakat luar biasa dalam menggambar. Di bangku SD, ia mampu membuat sketsa objek apa pun dengan cepat dan presisi. Bahkan ia kerap membuat figur manusia dan hewan dari tanah lempung hingga menyerupai bentuk aslinya.

Masuk SMP, bakatnya semakin menonjol. Ia sering diminta menggantikan guru keterampilan untuk mengajar menggambar. Hampir seluruh teman sekelas menitipkan buku gambar untuk dibuatkan sketsa oleh dirinya. Salah satu karyanya yang paling diingat adalah gambar uang seratus rupiah yang ia buat menggunakan pulpen dan kelir warna. Sang guru sampai tak percaya dan memberikannya nilai 10+.

Setelah lulus SMP, Sairi sempat bercita-cita masuk TNI. Namun nasib mengarahkan langkahnya ke SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) yang saat itu memberikan pendidikan gratis sekaligus uang saku. Dari 1.011 pendaftar di Balikpapan, ia diterima dengan nomor urut empat.

Usai lulus, Sairi bekerja di RS Pertamina Sangatta (1990–1991), kemudian mendapat penugasan ke RS Tarakan selama enam tahun. Di sana ia bertugas di ruang ICCU dan ruang operasi. Setelah itu, ia kembali ke Balikpapan dan bergabung sebagai perawat Puskesmas.

Meski fokus bekerja sebagai tenaga kesehatan, hasratnya pada seni rupa kembali muncul. Setiap pulang mengantar pasien rujukan, ia kerap singgah di galeri seorang pelukis tua untuk berdiskusi tentang lukisan. Dari situlah gairah berkaryanya bangkit kembali.

Perjalanan seni Sairi kemudian melesat. Ia banyak membaca buku seni rupa dan mengikuti berbagai pameran hingga akhirnya dikenal di tingkat nasional. Karyanya pernah dipamerkan bersama para maestro seperti Nasirun, Bagong Kussudiardjo, Joko Pekik, dan Heriadi.

Puncaknya pada 2012, Sairi terpilih sebagai finalis Beijing International Art Biennale. Karyanya menempati peringkat pertama dari sembilan perwakilan Indonesia dan dipamerkan di ruang utama museum, berdampingan dengan karya dari 150 seniman dari 100 negara. Bahkan dalam katalog pameran tersebut, karyanya disandingkan dengan karya maestro dunia seperti Francisco Goya.

Selain itu, Sairi pernah diundang Galeri Nasional pada 2010 untuk pameran “Restropkesi”, yang menampilkan karyanya bersama legenda seni rupa Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Soedjojono, dan Basuki Abdullah. Ia juga pernah berpameran di Bentara Budaya Jakarta dan Yogyakarta pada 2007.

Banyak karyanya telah dikoleksi oleh Galeri Nasional, Bentara Budaya, Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemerintah Kota Balikpapan, serta sejumlah kolektor internasional dari Australia, Prancis, dan Jepang.

Karyanya bercorak hiperrealis-surealis dekoratif dan banyak mengangkat kearifan lokal Kalimantan, khususnya budaya Dayak pedalaman dan menjadikannya salah satu pelukis Kaltim yang sukses membawa identitas lokal ke panggung dunia.

Kini, setelah seluruh target seninya tercapai, Sairi memiliki satu obsesi. Yakni, menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia dan galeri-galeri besar dunia.

“Prinsip saya sederhana, orang bisa, kita juga bisa,” ujarnya. (yud/ADV/Dinkes Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *