Kasus Stunting Masih Tinggi, Dinkes Balikpapan Soroti Pola Asuh dan Kunjungan Posyandu

Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan, Alwiati, mengungkapkan bahwa kasus stunting pada anak balita di Balikpapan masih mengalami peningkatan, meskipun berbagai program intervensi sudah dijalankan.

“Anak balita yang mengalami stunting masih terus bertambah, padahal seluruh program sudah berjalan. Karena itu, saya sedang mengevaluasi apa yang salah dari program yang sudah kita jalankan,” ujar Alwiati kepada wartawan, Selasa (5/8/2025).

Alwiati menyebutkan bahwa salah satu faktor utama penyebab stunting adalah masalah gizi. Pemerintah telah menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama tiga bulan kepada balita yang terindikasi kekurangan gizi. Namun, menurutnya, masalah tidak berhenti di situ.

“Setelah masa PMT selesai, pemberian makanan kembali menjadi tanggung jawab keluarga. Di sinilah sering terjadi kendala, terutama dalam pola asuh dan pemberian makan di rumah yang belum sesuai standar,” jelasnya.

Dinkes Balikpapan juga telah melakukan berbagai upaya edukatif, seperti kelas ibu hamil, kelas ibu menyusui, dan pelatihan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) makanan selain ASI kepada bayi yang berusia 6 bulan ke atas. Meski demikian, kasus stunting tetap ditemukan kembali di lapangan.

“Kami tidak mungkin bisa mengawasi anak-anak selama 24 jam. Dari ribuan anak, tentu tidak bisa dipantau satu per satu. Karena itu, partisipasi keluarga sangat penting,” tegas Alwiati.

Saat ini, prevalensi stunting di Balikpapan berdasarkan survei berada di angka 24,8 persen, dari total sekitar 107.000 ribu bayi dan balita. Angka ini mencerminkan hampir seperempat dari seluruh anak balita di kota tersebut. Salah satu masalah lain yang disoroti adalah rendahnya tingkat kunjungan ke Posyandu.

“Angka kunjungan Posyandu kita hanya sekitar 40 persen. Masih banyak orang tua yang jarang membawa anaknya ke Posyandu. Kalau seperti ini, bagaimana kita bisa memantau pertumbuhan anak-anak,” katanya.

Untuk mengatasi hal ini, Dinkes berencana meningkatkan pendekatan langsung ke rumah-rumah warga, terutama di wilayah yang kasus stuntingnya tinggi. “Memang harus kami datangi langsung ke rumah, karena tidak semua wilayah bisa dijangkau secara merata,” tambahnya.

Alwiati berharap partisipasi aktif dari masyarakat, terutama orang tua balita, agar target penurunan angka stunting di Balikpapan dapat tercapai secara maksimal. (ADV/Diskominfo Balikpapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *