Lintaskaltim.com, BALIKPAPAN – Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma, menegaskan bahwa sektor UMKM memegang peran penting dalam perekonomian nasional maupun daerah. Mayoritas pelaku usaha di Indonesia merupakan UMKM yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi penopang ketahanan ekonomi.
“Khusus di Balikpapan, kontribusi UMKM, terutama di bidang kuliner, tidak hanya memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga memperkaya keragaman budaya dan identitas kota melalui cita rasa khasnya,” ujar Heruressandy kepada wartawan saat menghadiri peluncuran “Jawara Borneo” oleh Gojek Kalimantan di Hotel Midtown Xpress, Balikpapan, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, Pemerintah Kota Balikpapan berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan UMKM melalui berbagai program strategis, mulai dari pelatihan dan pembinaan, fasilitasi permodalan, promosi dan pemasaran, hingga penyederhanaan perizinan. Langkah ini diharapkan dapat mendorong UMKM naik kelas dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Berdasarkan data DKUMKMP, saat ini terdapat 87.379 pelaku UMKM di Balikpapan yang terbagi ke dalam 17 sektor sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Sektor terbesar adalah olahan pangan atau kuliner, baik yang masih informal maupun sudah formal, dari pelaku usaha pemula hingga yang telah mapan.
Heruressandy juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan berbasis platform digital, UMKM yang sudah berkembang, dan para pelaku usaha pemula.
“UMKM yang sudah mapan sebaiknya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi yang telah terbukti, agar bisa menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi para pelaku usaha baru, khususnya generasi muda,” jelasnya.
Ia mengakui, membina wirausaha baru dari kalangan generasi Z bukanlah hal mudah. Meskipun mereka cepat memahami teknologi dan tanggap terhadap dunia digital, proses membentuk mereka menjadi pengusaha tangguh membutuhkan waktu, usaha, tenaga,
dan biaya yang tidak sedikit.
“Pembinaan UMKM saat ini tidak bisa lagi dilakukan secara monoton. Pelatihan tetap diperlukan, tetapi harus lebih ringkas, relevan, dan sesuai karakter generasi muda. Pemerintah ingin membuat program yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Balikpapan)













